Nguping di Bilik Toilet

Barusan aja, saya dari toilet wanita. Tuh kan, saya masuknya ke toilet wanita. TUH KAN! TUH KAN! SAYA PEREMPUAN.
*emosi

Begitu masuk ke bilik dan menunaikan ‘urusan’ tetiba saya mendengar suara seorang perempuan dengan aksen khas Jakarta. Konon, perempuan yang saya gak tau berada di bilik berapa ini sedang teleponan sama pacarnya.

Perempuan yang sedang menelepon (PYSM): aku gak bisa fokus kerja tau gak? Aku mikirin kamu terus. Aku gak bisa ngapa-ngapain.

Tentunya suara di seberang telepon menjawab tapi sayangnya saya gak denger. Akan tetapi begitu mendengar kalimat pertama itu berkumandang dari mulut si perempuan tetiba saya memasangkan telinga lebih fokus untuk nguping.

PYSM: kenapa kamu gak hubungi aku? Karena aku gak ngubungin kamu?

Wuih.. makin seru. Dan saya makin tersenyum-senyum bego.

PYSM: sampai kapan sih kamu mau nyakitin hati aku?
Tetiba saya ngerasa ‘jleb’. Tertohok gitu deh.

PYSM: kenapa sih? Kamu gak ngerasa salah ya?
Saya senyum dan terus fokus.

PYSM: kamu gak suka sama aku lagi ya?

Hemmm… hem… hem…
Saya mulai senyum makin brutal gak tau diri.

Saya sih udah selesai menunaikan ‘urusan’ saya di balik bilik kamar mandi itu, tapi saya ngerasa gak enak untuk keluar karena takutnya dia tau saya nguping (padahal karena masih pengen nguping)

Beberapa jenak kemudian, seseorang masuk ke toilet si PYSM masih meneruskan menelepon. Tak lama disusuk oleh 2 orang lainnya (sepertinya). Karena toilet sudah rame akhirnya si PYSM memutuskan menyudahi pembicaraan di telepon meski sepertinya dia belum puas. Meski sepertinya amarahnya belum tersampaikan. Meski akhirnya sepertinya sang pacar belum berhasil meredakan sakit hatinya.

Si PYSM itu berlalu, saya masih di balik bilik. Dan saya gak sempat melihat wajah perempuan itu.

Ada alasan kenapa saya tersenyum mendengar percakapan satu sisi tadi. Bukan karena meledek perempuan tersebut, justru saya sedang meledek diri saya sendiri karena betapa saya pernah berada di posisi perempuan itu.

Dengan kata-kata yang sama persis seperti perempuan itu ucapkan kepada pacarnya begitu juga saya pernah bicara seperti itu dua bulan yang lalu kepada orang yang dulunya pacar saya. Mungkin dengan perasaan yang sama juga. Sakit dan nyelekit tapi berharap si pacar ngerti kemudian minta maaf dan berakhir bahagia. Saya dulu juga menelepon di toilet. Bedanya bukan toilet yang tadi. Dulu saya masih ditugaskan di kantor klien di daerah Cakung.

Kondisi dan perasaan itu sama. Endingnya yang belum ketahuan. Apakah iya perempuan itu mendapati pacarnya mengikuti maunya lalu baikan dan berakhir bahagia seperti maunya dan mau saya dulu, saya tidak tau. Yang saya tau sekarang saya mendapati ending yang bahagia untuk saya. Tidak. Saya dan pacar saya dulu itu gak baikan dan balikan. Kami pisah. Tapi ternyata itu keputusan yang tepat. Cara yang tepat bagi saya untuk bahagia dan menemukan orang yang baru. Cara yang tepat meski melalui proses yang rumit dan berdarah-darah. Ah.. itulah kehidupan.

Untuk perempuan itu. Tentu saja pintu kebahagian tercipta juga untuknya. Seperti saya dan semua orang di dunia ini.

Advertisements

17 thoughts on “Nguping di Bilik Toilet

  1. ih dasar, kenapa gak keluar dari awal aja…
    tapi iya sih gue juga kadang-kadang suka kejebak hal-hal kaya gitu dan kadang ternyata orang di luar lagi ngomongin kita atau orang yang kita kenal

  2. “Tapi ternyata itu keputusan yang tepat. Cara yang tepat bagi saya untuk bahagia dan menemukan orang yang baru. Cara yang tepat meski melalui proses yang rumit dan berdarah-darah. Ah.. itulah kehidupan.”

    aku suka kalimatnya…. lupakan yang lama, cari yang baru….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s