Zona Perempuan-Zona Lelaki

Perempuan pake celana boleh. Lelaki pake rok? Ya Cuma Ahmad Dhani atau para lelaki mulus boyband kali yak.

Perempuan pake jas dinilai sebagai suatu style tomboy yang ciamik. Lelaki pakai kebaya? Tessy kali yak.

Perempuan pake sepatu koboy mah ayo aja. Lelaki pakai wedges? Kasian saya sama sepatunya.

Perempuan gandengan tangan sesama perempuan sih wajar. Lelaki gandengan tangan sesama lelaki pasti dituduh homo. Kasian. Gak adil.

Terus ada tuh yang sekarang namanya emansipasi, perempuan mau disejajarkan dengan lelaki. Tapi coba kita suruh benerin genteng? Mau gak? Tanya sama saya? gak. Saya gak mau benerin genteng kalau masih ada lelaki yang bisa dimintai tolong.

Emansipasi lagi katanya. Tapi kok ya mau diutamakan. Contohnya apa? Di Jakarta ini saya nemu yang namanya area parkir khusus perempuan, area bus dan kereta khusus perempuan, beuh… minta disejajarkan tapi mau diutamakan.

Bukaaaaaaan..

Saya ini masihlah seorang perempuan, meskipun banyak yang meragukan keperempuanan saya. Saya begini hanya karena, setiap kali saya naik bus Transjakarta saya suka sebel ketika ada batasan area perempuan yang lelaki gak boleh duduki. Tetapi area lelaki perempuan boleh ambil alih. Gak adil, kan? Bila perempuan itu wanita hamil dan tua mungkin sih aturan itu wajar. Tapi kalau perempuan itu sehat bugar senang sentosa kenapa juga harus diutamakan? Toh lelaki dan perempuan sama-sama kakinya bisa pegel kalau berdiri kelamaan.

Terus mas Slampok (yang sekarang entah berada di mana) pernah membahas kalau sebaiknya ketika ngantri naik Transjakarta itu lebih baik mengutamakan perempuan dulu yang masuk, baru entaran lelaki. Nah kalau bus-nya udah penuh ya silahkan nunggu lagi.

Jujur, saya kok kurang setuju bila ada lelaki yang mengutamakan perempuan sampai segituhnya. Tenang. Saya masih perempuan. Fitur-fitur punya perempuan lengkap saya miliki.

Gini loh rasa ketidaksetujuan saya, setiap dari kita kan sama-sama punya kesibukan sendiri. Dan setiap kita pasti ingin sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu. Nah, kalau begini caranya, lelaki bakal sering terlambat donk. Karena apa? Karena mengutamakan wanita tadi.

Ah.. iya saya lebay ya. Padahal gak segini-segininya juga kali yak.

Tapi ya sudahlah, saya udah terlanjur nulis. Lagian maksud dan inti tulisan saya adalah:

Perempuan itu selalu boleh memasuki area lelaki dari berpakaian sampai menguasai bus. Lelaki gak begitu.

Daaaaan.. oh sungguh indah jadi perempuan.

Ps: tetiba saya ngerasa tulisan saya ini gak fokus. Aah.. sudahlah, kerjaan saya lagi banyak nih.

7 thoughts on “Zona Perempuan-Zona Lelaki

  1. salam kenal y mba, postingannya bagus….saya setuju banget dgn pemikiran mba, wanita terlalu banyak meminta dan maunya diutamakan padahal suka tidak suka wanita dan pria tetap tidak bisa disamakan, kasihan laki2 xixixixixi

  2. gak lebay sih, cuma aturannya yang lebay, negara lain yang mengutamakan emansipasi gak segitunya, ya mungkin karna orang Indonesia belum ngeh jadi aturannya dibikin lebay biar “ngeh”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s