Duduklah di Sebelah Saya

Tetiba saya ingin mellow. Ingin kembali menulis menye-menye.                    

Dipikir-pikir ini lucu. Bagaimana bisa akhirnya kamu dan saya bisa duduk bersisian mencari bulan. Seperti kata saya, “Jakarta gak punya bulan”. Tapi tak apalah. Duduk memandang langit malam hari lalu menghitung bintang bersama bukan gaya saya.

Dipikir-pikir ini lucu. Ya, itu kenapa saya tersenyum saat mencoba tertidur di dalam mikrolet karena letih saat kamu mengantar saya pulang. Ada hal yang saya pikirkan. Di kepala saya. Dan itu tentang bagaimana kita bisa seperti ini.

Duduklah di sebelah saya. Coba kamu ingat-ingat apa yang kamu tahu tentang saya? pasti hanya sederet nama lengkap saya, kan? Saya lebih parah, ketika mengingat-ingat apa yang saya tau tentang kamu, ternyata tidak ada. Karena bahkan, katamu namamu yang selama ini saya lafalkan itu ternyata bukan nama lengkap yang tertera di KTP-mu. Lalu, persetanlah dengan apapun nama yang menjadi identitasmu. Mengetahui kamu tidak jadi diberi nama ‘Joko’ saja sudah membuat saya sujud syukur.

Duduklah di sebelah saya. Kita akan makin menyadari kalau kita bahkan memang tak saling mengenal. Sebut saja takdir yang akhirnya membuat saya yang berasal dari kota yang menurutmu antah berantah bahkan bisa duduk bersisian dengan jarak yang begitu dekat denganmu. Iya kan? Takdir, kan? Apalagi kalau bukan?

Duduklah di sebelah saya. Terlalu banyak hal berbeda di diri kita. Sebut satu saja persamaan maka itu memerlukan usaha mati-matian dari kita mengingat hal apa yang bisa kita samakan. Kita berbeda. Siang dan malam.

Duduklah di sebelah saya. Kita bahkan belum saling mengenal satu sama lain. Setiap saya tatap matamu yang saya pikirkan adalah “orang seperti apa lelaki yang tengah jalan bersama saya ini?”. Karena kamu, lelaki yang tidak saya kenal.

Duduklah di sebelah saya. Saya punya permintaan kepada kamu. Sekali saja, tolong anggap saya ini manusia. Sekali saja, anggap saya perempuan. Sekali saja, anggap saya manusia berjenis kelamin perempuan yang juga punya hati. Bisa?

Kalau bisa, kemarikan tanganmu. Biarkan saya genggam. Biarkan saya berharap saya bisa memercayakan ‘ini’ padamu.

4 thoughts on “Duduklah di Sebelah Saya

  1. (Mengetahui kamu tidak jadi diberi nama ‘Joko’ saja sudah membuat saya sujud syukur.)

    memangnya ada apa dg nama “joko”????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s