Kepada Kamu

1 tahun lalu.
Kamu dan aku bertengkar. Wajahmu sendu akibat aku yang terlalu belagu. Ketika menyadari aku salah, aku tau itulah saat yang tepat aku menggenggam tanganmu dan meyakinkanmu bahwa semua akan baik-baik saja. Nyatanya seperti katamu, aku ini perempuan dengan kadar gengsi terlalu berlebih. Aku terlalu gengsi meraih tanganmu dalam genggamanku untuk kuyakinkan. Akhirnya kamu pergi.

Kemarin.
Tepat satu tahun setelah kejadian itu. Di kota berbeda, di tempat berbeda, dengan lelaki berbeda, yang sama hanyalah suasananya. Di depanku ada dia, dengan tatapan sendu dan wajah yang pernah kuhapal tercetak di wajahmu. Dengan pertengkaran yang juga dikarenakan aku. Karena aku terlalu angkuh.
Bila dulu dalam otakku aku menimbang-nimbang apakah tanganmu harus kugenggam, kemarin aku berusaha sekuat tenaga mengalahkan gengsi agar tangan itu mampu kugenggam. Mampu kuyakinkan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Akhirnya tangannya kugenggam. Gengsiku kuenyahkah. Dan dia tak pergi dariku.

Mungkin benar seperti katamu, orang-orang yang hadir di hidupku setelah kamu mestinya harus berterima kasih padamu. Karena setidaknya aku tak memperlakukan mereka seburuk aku memperlakukanmu. Karena denganmu aku belajar. Bahwa kepergianmu dariku memang mutlak salahku.

Advertisements

7 thoughts on “Kepada Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s