Dibuang

Apa yang saya takutkan akhirnya terjadi

Saya sedang berada di angkot pagi itu ketika Mami menelepon saya. Beliau meminta izin saya untuk memberikan rok-rok jaman kuliah saya kepada sepupu saya. Saya mengiyakan. Lalu beliau juga minta izin agar jeans-jeans saya juga ikhlas saya sumbangkan. Setelah mengingat-ingat sebentar saya iyakan juga. Toh jeans-jeans itu memang sudah gak saya pakai lagi. Celana-celana yang saya pakai sudah habis saya bawa ke Jakarta semua bersama diri saya. Terakhir yang bikin saya syok adalah ketika Mami mengatakan,

“Ini baju-baju rumah adek Mami buang aja ya semua?”

“Haaaa? Buang?”

“Iya. Buat apa lagi? Udah jelek-jelek juga ini.”

“Berarti nanti adek pulang lemari adek kosong donk?”

“Iya”

“Berarti nanti adek pulang gak punya baju rumah jelek tu lagi donk?”

“Iya.” Jawab Mami masih kalem. “Lagian buat apa juga ini baju koyak-koyak disimpen. Nanti adek beli aja lagi yang baru”

Saya hanya bisa pasrah. Memang sudah saya duga hal ini akan terjadi. Karena saya tau (seperti yang saya ceritakan di sini) kalau Mami memang sudah jengah ngeliat saya dengan pakaian usang saya.

One thought on “Dibuang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s