Berjalan Maju

Kini berada dalam kendaraan hanya membuatku merasakan kebodohan itu lagi.

Sejak di Jakarta, setiap kali saya naik kendaraan umum lalu bengong menatapi pemandangan di luar jendela bus transjakarta ataupun angkot, yang saya dapati hanyalah kilasan-kilasan pemandangan berisi kebodohan saya. Dan saya gak suka.

 

Saya udah coba sibukkan diri dengan memasang earphone dan menyetel musik. Mata saya pun saya pakai untuk membaca novel selama perjalanan tapi tetep gak segampang itu juga untuk fokus pada bacaan.

 

Akhirnya lagi, saya dapati diri saya melamun sambil memandang keluar jendela. Lalu kilasan ingatan itu muncul memberontak dan saya bergidik ngilu sendiri untuk akhirnya mengakui kalau saya telah bodoh pula dibodohi.

 

Jejak-jejak itu memang sudah tertinggal di belakang, tapi menghapus semua ingatan kebodohan saya gak segampang itu. Ingatan itu mengejek saya. Menghina saya dan selalu menertawakan tindakan saya di masa lalu.

 

Kelebatan ingatan itu ingin saya hentikan. Karena kelak saya ingin seperti dulu, ketika melihat pemandangan luar jendela yang saya lamunkan adalah tentang rencana ke depan saya bukan sesalan dari tindakan masa lalu. Karena toh angkutan ini berjalan maju mengantarkan saya ke tempat tujuan. Ya berjalan maju.

 

One thought on “Berjalan Maju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s