Perkara Parfum

Saya mulai bekerja sejak Maret 2011. Tahun 2011 banyak hal baru dalam hidup saya, saya wisuda, saya bekerja, mengalahkan prinsip dan akhirnya mau diajak pacaran untuk pertama kali, pertama kali putus, lalu pertama kali jatuh cinta, pertama kali juga ingin percaya kalau mungkin aka nada cinta yang cocok untuk saya.

Selain itu saya juga mengubah kebiasaan saya yang lain. Saya bukan perempuan pengguna parfum dulunya. Akan tetapi ketika mulai bekerja saya mulai membeli parfum. Alasannya hanya karena ingin sedikit yaa… bergaya (mungkin?). Entahlah, saya hanya ingin berubah itu saja.

 

Parfum pertama yang saya beli ternyata gak saya sukai bau-nya ketika menempel sama saya. hanya beberapa kali pakai saya sumbangkan parfum itu buat Mami. Ya, saya terlalu terburu-buru membeli parfum itu, dan maklum, hal pertama jarang berhasil kan?

 

Parfum kedua yang saya beli langsung saya sukai harumnya. Gak terlalu perempuan. Gak manis. Aah.. pokoknya saya suka. Saya pede memakai parfum itu. Berbulan-bulan saya memakainya. Sampai di Jakarta parfum itu habis. Ya, sudah saatnya saya membeli yang baru.

 

Beberapa hari lalu saya membeli parfum baru. Ketika dicoba wanginya lumayan. Bungkus bawa pulang. Hari ini saya memakai parfum itu ketika berangkat kerja. Gak berapa lama kemudian saya merasa terganggu. Saya gak biasa sama aroma ini. Seakan-akan ada orang lain yang terus menerus nempel sama saya. Ya, saya gak merasa ini parfum cocok untuk saya. Sepanjang jalan saya risih sendiri. Saat mengetik tulisan ini pun saya masih risih.

 

Saya bukan orang yang gampang terbiasa sama hal baru. Maka dari itu dalam memilih apapun saya akan terlihat monoton. Contohnya ya parfum, sekalinya saya nyaman sama parfum ini maka akan terus saya pakai selamanya. Saya juga gak suka coba-coba, kayak gini, saya coba ternyata gak enakin.

 

Sekarang pilihannya adalah:

  1. Terus memakai parfum ini dan memaksanya menjadi terbiasa untuk saya.
  2. Gak pakai parfum, lalu nanti ketika pulang ke Banda Aceh beli lagi parfum yang biasa itu di tempat biasa beli.
  3. Karena saya gak ngerti sama Jakarta, ya semoga aja kelak ketika saya jalan-jalan hendak berbelanja saya menemukan parfum beraroma sama. Jadi saya gak mesti menunggu hingga tiba waktunya saya pulang.

 

 

2 thoughts on “Perkara Parfum

  1. “Parfum kedua yang saya beli langsung saya sukai harumnya. Gak terlalu perempuan. Gak manis” —> Ini parfum AXE :))

    G terlalu perempuan, g manis, bikin bidadari turun ke bumi *liatin posternya d pinggir jalan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s