Siang yang Terlalu Pagi

Kakak tertua Ibu saya dipanggil dengan sebutan Mak Ani oleh semua ponakannya. Beliau adalah sosok ibu rumah tangga yang ibu banget  yang rumah banget yang tangga banget. Bingung? Aah.. pokoknya memang 100% hidupnya didedikasikan untuk menjadi ibunya rumah tangga. Loh?

#abaikan

 

Awal tahun 2005 beliau datang ke Banda Aceh kejadian itu tepat setelah Tsunami menerjang provinsi Aceh beberapa tahun silam. Niatnya sih, beliau ingin membawa anak, mantu dan cucunya ke Lampung untuk ngungsi. Sedangkan keluarga saya ingin diungsikan ke Pulang Penang oleh suaminya Tante saya. karena ketidaksetujuan Ayah saya, maka acara ngungsi-ngungsian itu batal, mantunya Mak Ani juga enggan melarikan diri ke Lampung karena keluarga besarnya di sini amat membutuhkannya. Singkat cerita, akhirnya rumah saya lah yang menjadi tempat pengungsian.

 

Beberapa bulan setelah Tsunami sekolah kan masih tidak aktif (iye, saat itu saya masih cekolah qaqa… lagi unyu-unyu-nya) nah, saya pakai kesempatan ini untuk tidur jauh lebih lama dari biasanya . Nyatanya, kenyataan tak seindah harapan.

 

Lagi enak-enakan tidur tetiba saya dibangunkan, “Tan, bangun. Udah siang.”

Dalam tidur yang mulai sadar saya berujar dalam hati, “Ha? Siang? Mati aku. Bisa kena marah Mami nih, bangun kesiangan lagi banyak orang gini. Pasti kena merepet karena gak langsung cuci piring”

 

Demi pikiran itu saya bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka. Tetapi ada yang aneh. Suasana yang saya rasakan aneh. Saya lirik jam.

Singkat cerita kondisi jam itu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

#saya ulangi

SETENGAH TUJUH PAGI

SETENGAH TUJUH PAGI SODARA-SODARA onion-emoticons-set-3-23

Saya sewot. Saya melihat Mak Ani tengah berbincang sambil minum teh dengan Ibu dan kakak sepupu saya di teras rumah. Lalu saya hampiri.

“Mak Ani.. baru jam setengah tujuh kok udah bangun adek? Mana siangnya? Emang di Lampung jam setengah tujuh itu udah dibilang siang ya? Ini Banda Aceh, waktu yang paling telat di Indonesia. Matahari belum nongol lagi.”

Saya sewot. Ibu saya senang karena saya bangun pagi meski gak sekolah. Mak Ani menjawab kalem, “Mak Ani kalau di sana (Lampung) jam 5 itu udah siap mandi terus ke pasar.”

 

“Mak Ani, jam 5 itu azan aja belum di Banda Aceh. Mak Ani kayak gak pernah tinggal di Aceh aja”

“Mak Ani memang kayak gitu. Dulu pas masih tinggal di Sabang juga jam 5 udah siap mandi” timpal Ibu saya membela kakaknya.

“Okeh. Bisalah kayak gitu. Tapi jangan bilang siang juga lah.” Saya masih sewot karena bangun dengan terkaget-kaget tadinya.

 

Keesokan harinya kejadian serupa terulang.

“Tan, bangun. Udah siang nih.”

Saya peluk guling makin erat. Menurut saya siang itu dimulai dari jam 11. Itu pun siang yang masih unyu-unyunya. onion-emoticons-set-3-65

 

Sekarang di Jakarta, saya mengalami apa yang dinamakan galau soal waktu. Saya tau pekerja di sini gak ada yang bangun jam setengah 7 untuk pergi kerja. Tapi yah… bangun shubuh jam setengah 5 aja saya masih belum terbiasa sodara-sodara.

 

 

2 thoughts on “Siang yang Terlalu Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s