Wajar Gak?

“Kalau Intan keliatan manja dan terus menerus kangen sama Mami wajar gak sih, kak?” Tanya saya sama kakak yang ngekost bareng sama saya.

 
“Wajarlah. Coba ingat, berapa tahun Intan tinggal sama Mami. 23 tahun kan? Dan ini pertama kalinya Intan pisah sama Mami dengan jarak yang lumayan jauh pula. Yang gak bisa pulang ke rumah sesuka hati Intan. Kalau Intan gak teringat Mami itu baru gak wajar. Durhaka namanya.”

 
“Tapi Intan masih suka nangis loh. Kakak liat sendiri kan Intan kepergok nangis kemarin dulu di toilet kamar mandi karena kangen sama Mami.”

 
“Iya. Tapi masih wajar, kakak dulu pertama kali ngekost juga rasa kayak gitu. Dan Intan gak usah malu sama kakak. Kakak gak sedih lagi karena kakak udah lama kali sejak pisah pertama kali dari keluarga”

 
Saya tersenyum senang…
Pertanyaan serupa pernah juga saya lontarkan kepada salah satu teman di chating. Dia juga mengatakan ini hal yang wajar. Dulu saat dia pertama kali keluar rumah untuk ngekost di luar kota dia juga sering galau. Dan kata dia, saya akan bisa menjalani ini perlahan-lahan. Nanti lama-lama juga akan terbiasa. Sama seperti dia. Lalu semua ini akan membuat saya lebih mandiri dan dewasa.

Oke. Saya kangeeeeeeeeeeeeeeen banget sama Mami. Saya memang anak manja dan saya benar-benar pengen Mami bisa meluk saya dan ngomong kata-kata menenangkan kala saya tengah susah hidup sendiri. Kata-kata memang bisa Mami berikan pada saya, tetapi pelukannya hanya mampu saya angankan saat ini. Untuk membuat saya tetap bertahan dan merasa betah di sini pilihan saya hanya dengan menelepon teman-teman saya di Aceh atau chating dengan teman-teman ngerumpi. Sayangnya, saya selalu merasa takut mereka lambat laun akan bosan mendengar saya yang selalu kangen Mami atau merasa jenuh berusaha menguatkan saya. Karena toh (mantan) pacar saya saja jenuh menghadapi segala keluhan dan ketidakbetahan saya. Kalau dia saja kemudian menganggap saya menyebalkan bagaimana dengan lainnya?

Saya manja. Saya butuh dikuatkan. Ada hari-hari dimana saya begitu merasa kesepian dan sendiri. Karena ini pertama kalinya bagi saya. Terlepas dari control keluarga. Berpisah sama teman-teman yang selama ini menemani saya. Ada hari-hari di mana saya butuh ditemani hanya agar saya masih sanggup menghadapi hari karena toh akhirnya saya ini perempuan. Gak sekuat dan setangguh lelaki. Bahkan beberapa kejadian di sini mulai dari diikuti orang asing, nyasar pulang naik angkot, hampir ketabrak, ketemu preman di angkot masih membuat jantung saya berdegup kencang dan membuat kaki saya lemas. Karena apa? Karena saya gak pernah menghadapi ini sebelumnya dan terutama, di sini, di Jakarta, siapa yang bisa saya mintai tolong kalau ada sesuatu hal buruk terjadi sama saya?

Jadi, kalau sesekali saya nangis, entahlah, saya membuat pembenaran kalau ini wajar. Ini masih bulan kedua saya di Jakarta. Semoga 2 bulan lagi saya mulai betah.

One thought on “Wajar Gak?

  1. ya elah… dua bulan nggak jumpa mama… wajar kok kangen…. diriku aja yang dulu hampir tiap bulan pulang ke Medan, sering kangen ama mama… apalagi sekarang ini yang udah hampir lima bulan nggak pulang…. :((

    ayo…. mana semangatnya sebagai sesama perantau…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s