Jurnal Patah Hati

Air mata kemarin berurai bukan karena beratnya melepaskanmu, melainkan karena betapa susahnya saya rasakan mempertahankan cinta dari satu pihak saja.

 

Sama seperti ketika jatuh cinta, kok ya dirasa-rasa semesta ikut mengecat warna-warni indah di hati kita membentuk pola bunga nan besar. Pun begitu ketika putus cinta, semesta juga siap menawarkan warna kelabu penambah sendu.

Tetiba di kantor saya berulang kali mendengar lagu patah hati. Heran juga, rekan yang biasanya doyan denger lagu Linkin Park dan Simple Plan kenapa malah muterin lagunya Tenda Biru-Desy Ratnasari?onion-emoticons-set-6-40
Lalu, rekan yang tadinya penggila lagu korea kenapa juga menawarkan telinga saya lagu dengan lirik “bilang sajaaaaaa… pada semua… biar semua… tau adanya…. diriku kini sendiri….”  onion-emoticons-set-6-9
Belum lagi saat saya mesti ke Marunda. Hari hujan. Dalam mobil jemputan, sambil memandang jendela yang dibasahi air hujan audio mobil memancarkan lagu Syahrini dengan lirik, “Kau yang memilih aku.. kau juga yang sakiti aku…” onion-emoticons-set-6-6
Rasanya pengen banget antuk2in kepala ke kaca mobil. Asli, kok ya itu pose saya dan beksonnya bisa kompak gitu galaunya. Syebel.
Kalau gak mau dipikir sebagai auditor cantik, muda, pintar, rajin menabung, dan suka sate (sesi narsis) tapi punya kelainan jiwa, saya pasti udah antuk-antukin kepala dan tendang-tendang itu audio mobil.

Lalu, Auditor Manager (AM) saya. Entah karena seharian dia bosen ngeliat wajah cemberut saya maka berulahlah beliau dengan mengerjai saya. AM saya ini kan baik hati dan senang membantu, tapi hari itu dia jadi dingin banget. Saya yang tengah menempatkan otak di lutut dan hati di kaki sih gak curiga. Saya pikir, beneran deh AM saya ini serius lagi sebel sama saya karena udah dua hari bukannya ngerjain KKP eh sayanya malah sibuk chating.
Tapi setelah liat perubahan mukanya saya dari bête binti cemberut menjadi bête+cemberut binti panik yang tentunya jauh banget dari kata cantik, maka ngakulah beliau kalau beliau tengah mengerjai saya. Syebelnya, kenapa juga mesti saya? toh ada 4 orang lainnya yang bisa beliau kerjain hari ini. *ngedumel*

Pulang kantor masih nyebelin. Sopir angkotnya malah muterin lagu dangdut patah hati. Beuh… saya udah gak sanggup galau lagi onion-emoticons-set-2-110. Jadinya saya malah ketawa aja ngedenger lagu tersebut. Mau apalagi? Mau nangis dan cakar-caka sopir angkot? Cih! Baru patah hati aja udah senewen. Belum lagi harus sakit hati (lever maksudnya).

Baiklah. Bisa dianggap itu berlalu?
Sumpe. Awalnya saya pikir saya akan terus galau hingga sebulan lamanya. Nyatanya, hari kedua pasca putus cinta saya sudah bisa menertawakan kebodohan sendiri, meski gangguin beberapa temen untuk curhat😀
Hari ketiga, berjalan lancar. Hari keempat udah mulai bisa ngeliat hikmah. Hari kelima (hari ini), focus pikiran saya hanyalah menunggu wiken tibaaaaaaaaaaaa…
Dan juga sudah saatnya ngerjain KKP SBU Marunda. Datanya udah datang.

Well, kemarin tuh kan saya emang sempat galau. Terus kalau sekarang saya bisa secepat ini memperbaiki hati, salahkah saya? apakah ini berarti saya tak sungguh-sungguh terluka? Atau memang saya saja yang gampang buat move on? Tetiba saya yang dihancurkan hatinya ini merasa bersalah😐

Dan mungkin memang tidak semua jenis cinta harus dipertahankan.

4 thoughts on “Jurnal Patah Hati

  1. enggak juga sih bro .. kan tiap orang karakteristiknya berbeda-beda. ada orang yang moodnya gampang berubah, ada orang yang gampang melupakan, ada orang yang gampang teralihkan perhatianya dari suatu masalah apabila ada hal yang ternyata lebih menarik …

    btw .. nice prost bro

    thx

  2. bagus dong kalo cepet bangkit …. tunjukkan padanya kalo kamu masih bisa tersenyum tanpa dia.🙂 *sedikit dendam*😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s