Pilihan Kedua

Pilihannya cuma dua.

 Saya berpura-pura tidak melihatnya atau menatapnya dan tersenyum.

 

Lagi. Lelaki itu jangkung itu. Dari kejauahan saya sudah dapat melihatnya dan lagi, pandangan matanya juga tengah mengarah pada saya.

Sebentar lagi maka langkah kami akan berpapasan. Lalu seperti biasa salah satu diantara kami akan memulai menyunggingkan senyum karena memang ketika berpapasan kami saling memandang satu sama lain.

Pagi ini saya seperti malas memberikan senyuman. Setiap harinya juga saya berpapasan dengannya. Setiap pagi 3 sampai 4 kali saya berpapasan dengannya dan meski sudah sebulan berada di kantor itu saya juga gak tau di mana ruangan kerjanya, yang saya tau kami sering berpapasan dan lebih seringnya ketika hendak wudhu untuk shalat di Mushalla.

Pagi ini ketika melihatnya dari kejauhan saya bergumam dalam hati, pilihannya hanya dua, berpura –pura tidak melihatnya ketika langkah kami berpapasan atau menatapnya mantap lalu memberikan senyuman seperti biasa.

 

Beberapa langkah lagi….

 

 

Dan pilihan kedualah yang saya ambil.

2 thoughts on “Pilihan Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s