Saya Cantik (?)

Okeh. Bicara fisik.

Tergelitik jiwa dan raga saya ketika membaca link yang dikasih om warm, inih dia link-nya. Ngerumpi hari ini bicara soal fisik. Pas banget sama obrolan saya semalam dengan seorang teman. Ya, entah kenapa akhirnya obrolan malah nyerempet ke fisik.

Saya ingin curhat. Kalau banyak yang bilang masa-masa SMA adalah masa-masa paling menyenangkan, kayaknya saya gak dapet deh moment kebahagian itu di SMA. Karena saya merasa di bully secara mental oleh beberapa orang yang saya kenal ketika SMA.

Tubuh kurus kerempeng, dada rata, jerawatan, pendek, gak termasuk golongan orang kaya lagi sukses membuat saya minder, terlebih ketika saya harus membentuk suatu gank (yah.. biasa kan anak SMA ada kelompok-kelompoknya gitu) yang mana berisi 4 orang termasuk saya dan semuanya cantik dan sexy kecuali saya.

Teman gank saya sendiri pun sayangnya selalu memandang sebelah mata sama saya. Selalu dengan sindiran-sindiran mengatakan saya ‘jelek’ atau membuat saya merasa benar-benar gak pantes banget deh.

Gak hanya itu, teman saya yang pernah naksir sama sahabat saya pernah berkata begini, “Tan, pulang bareng Yuyun ya? tolong jaga dia, jangan sampai lecet. Kalau kamu sih, mau lecet juga gak apa. Gak rugi.”

Jleb…

Sumpah.

Saya pengen makan batu bata rasanya dibilang kayak gitu.

Sehabis tsunami, seorang sahabat saya meninggal karena terjangan tsunami. Kelas 2 SMA formasi gank saya berubah. Kini kami berlima. Lagi, dua orang tambahan ini cantik dan popular. Saya. Lagi-lagi hanya itik di kelompok angsa. Meskipun ada beberapa teman sekelas bahkan abang kelas yang naksir sama saya, tapi saya merasa saya GAK PANTAS untuk dinaksir. Saya jelek.

Masa-masa SMA saya habiskan dengan sibuk melumat semua komik yang tercetak. Sibuk membaca novel teenlit. Alhasil mata saya minus 2, kiri kanan. Gak tau juga sih, apakah saya stress atau bener-bener ngerasa gak ada artinya. Tapi yah, kalau dipikir-pikir, dengan kondisi lingkungan teman sekolah seperti ini ditambah dulunya kondisi keluarga saya juga kacau balau, saya termasuk anak yang masih ‘kalem’ menghadapi semua ini dengan memurukkan diri masuk ke cerita-cerita komik atau novel yang membuat saya lupa sama dunia nyata alih-alih buang diri ke lembah ‘gak banget deh’.

Okeh. Lupakan masa nista itu.

Sejak kuliah semua berubah. Bergaul dengan teman-teman yang gak melulu sibuk soal tempat nongkrong paling keren dan busana paling okeh saya merasa nyaman. Saya gak merasa terintimidasi lagi. Lalu, entah sejak kapan dimulai, tiba-tiba saya mendapatkan predikat ‘cantik’ dari orang-orang.

Kaget.

Awalnya heran.

Tapi bisa dibilang ini sumber awal kepercayaan diri saya bangkit. Saya mulai PD. Lalu kalau sekarang saya inget-inget kenapa akhirnya saya bisa disebut cantik, itu mungkin karena akhirnya saya tak lagi tertekan. Saya hidup dengan gaya saya. Saya gak sibuk memikirkan tempat nongkrong paling keren untuk dikunjungi saat wiken, saya gak sibuk mengupdate baju-baju keren untuk dipakai sebagai ajang fashion show. Karena akhirnya, saya menerima diri saya apa adanya. Dengan jerawat saya, dengan alis tipis saya, dengan tubuh kerempeng saya, dan dengan dada rata saya. Dan saya terima itu dengan PD yang akhirnya saya lebih sering senyum J

Yah.. singkat cerita saya merasa atau menjadi cantik karena saya membuat diri saya cantik dengan cara-cara saya sendiri yang benar-benar membuat saya nyaman. Bukan ikut-ikutan manusia lain.

Maret 2011 saya akhirnya bekerja. Menjadi karyawati di perusahaan swasta. Lalu, akhirnya saat inilah saya merasa benar-benar cantik. Punya penghasilan sendiri, tau apa yang ingin saya lakukan, tau apa yang menjadi cita-cita saya, tau bagaimana cara memanjakan diri sendiri, dan mau berpikiran out of box, juga gak sungkan menjadi beda untuk sesuatu apa yang saya yakini perlu saya lakukan.

Ohyah. Menurut saya perempuan itu berevolusi menjadi cantik. Saat SMA boleh culun, kuliah boleh dekil, tapi ketika sudah kerja/berumah tangga maka seorang wanita akan bertambah cantik seiring dengan makin taunya dia merawat diri sendiri. Bisa dibilang juga, masa-masa keemasan perempuan itu adalah sekitar umur 20-sampai jelang 40. Benar gak siy?

Ohyah (lagi). Sekarang saya hanya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sering memuji saya cantik, dan saya gak lagi merasa rendah diri ketika orang yang lain lagi malah mengatakan saya jelek. Karena apa? karena cantik itu relative. Tergantung mata yang lihat. Dan, kecantikan itu ada di mata yang melihat.

Saya. Tetaplah seorang perempuan biasa saja. Punya perlengkapan perang (kosmetik) yang lengkap tetapi sejatinya lebih suka membiarkan wajah polos tanpa bedak yang membuat wajah terasa ‘berat’. Saya, buta fashion. Saya, Intan. Itu saja.

2 thoughts on “Saya Cantik (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s