Rikues: Seorang Pria yang Bisa Bahasa Aceh

Seorang teman bolak balik mengirimkan sms untuk saya yang isinya hanya berupa pertanyaan apakah arti dari kalimat bahasa aceh yang dia tanya kepada saya. Beberapa berhasil saya jawab beberapa gak. Yah.. meskipun 100% berdarah Aceh, nilai toefl saya untuk bahasa Aceh masih sangat memprihatinkan. Akan tetapi saya gak pernah merasa enggan berbicara bahasa Aceh dimanapun dan kapanpun.

 

Si temen ini tetiba rikues ke saya, “Tan, cariin aku suami yang bisa bahasa Aceh-lah”, itu permintaannya yang disambut gelak tawa saya. Well, teman saya ini setau saya hidup udah sekian tahun di Aceh. Mungkin hampir seluruh umurnya. Dan juga setau saya dia bukan orang Aceh memang. Apakah lantas itu menjadi alasan untuk gak bisa berbahasa Aceh? Jawabannya jelas GAK BISA DIJADIKAN ALASAN. Harusnya inget dong sama peribahasa dimana Bumi dipijak disitu langit dijunjung?

 

Hemmm…

Mencari lelaki yang bisa berbicara bahasa Aceh. Lah… ini juga target saya. Jadi kalaupun teman saya meminta ini sama saya, otomatis akan saya penuhi setelah untuk saya ada.

 

Saya gak mahir amat berbicara bahasa Aceh, kadang dalam beberapa moment tertentu di saat saya pulang ke kampung ayah saya, saya merasa sedikit gak enak karena gak bisa berbicara bahasa Aceh. Dulunya, saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika para saudara di kampung mengajak saya berbicara dalam bahasa Aceh. Ngerti sih saya apa yang mereka katakan, tetapi lidah saya gak bisa untuk menjawab menggunakan bahasa Aceh juga. Alhasil percakapan yang terjadi 2 bahasa. Hal serupa terjadi di rumah, ketika saya berbicara dengan Ayah saya. Beliau ngomong Aceh saya ngomong Indonesia. Tapi belakangan, saya mencoba berbicara bahasa Aceh agar saya cepat lancar (kenapa gak dari dulu coba?) meskipun ngomongnya terbata-bata.

 

Menyoal menginginkan lelaki Aceh itu karena saya ingin suami saya dapat berbicara dengan nyaman apabila nantinya kami mengunjungi kampung ayah saya. Kan pengantin baru ada tuh suatu ritual yang mengharuskan si pengantin mengunjungi rumah para sanak family untuk bersilaturahmi. Nah, jadi entar saya dan suami gak bakal bengong atau kobong ketika harus mengunjungi keluarga pihak ayah saya. Lebih bagus lagi kalau suami saya cakap berbicara, jadi suasana jadi gak kaku.

 

Nah, iyakah lelaki Aceh yang jadi jodoh saya?

Wallahu’alam 🙂

 

Baca ini bila berkenan: Malu Berbicara Bahasa Aceh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s