Lelaki Keras Kepala

Terus telepon aku hingga 57 kali.

Mungkin di kali 58 aku akan mengangkat teleponmu.

 

Terus kirimi aku sms-sms hingga ribuan pulsamu terbuang percuma.

Mungkin di saat pulsamu tinggal 50 perak, aku akan membalas satu pesanmu.

 

Teruslah bertanya ‘ada apa?’ ketika aku diam merajuk.

Mungkin di kali ke 13 kamu bertanya, aku berhenti sekedar berkata ‘Gak ada apa-apa’ sebagai jawaban.

 

Terus kembali lagi padaku bahkan setelah berkali-kali aku mengusir.

Mungkin di hitungan ke 62 kamu kembali aku akan membuka pintu untukmu.

Ngerasa ‘klik’ sama paragraf pembuka saya?

Well, kalau kamu seorang perempuan mungkin kamu akan setuju sama saya.

Keras kepala. Mungkin itulah sebenarnya yang diinginkan seorang perempuan dari seorang lelaki yang mengaku ‘mencintai’-nya.

Yah.. keras kepala untuk tetap menunjukkan dia pantas bersanding sama kita hingga keras kepalanya itu terus menerus menumbuhkan rasa cinta yang kuat darinya untuk kita.

Gak. Saya gak sedang membicarakan obsesi. Saya mencoba berpikir positif kalau di luar sana banyak terdapat lelaki keras kepala dalam mencintai dalam konteks ‘tulus’.

Mungkin selama ini saya keukeuh untuk hidup sendiri tanpa pasangan/pacar, karena saya belum menemukan seseorang yang keras kepala menunjukkan cintanya pada saya. Yang datang kembali setelah saya usir berkali-kali, yang terus menerus menelpon saya tanpa henti sampai saya angkat, yang terus mengucap maaf lewat pesan singkat agar saya tak merajuk lagi. Ya, hingga kini saya belum menemukannya.

Pernah saya mendengar kalimat yang kira-kira berisi, “Perempuan bukan terlalu sibuk memilih lelaki yang sempurna, akan tetapi ia tengah menunggu lelaki yang tidak mudah menyerah untuk mendapatkannya”

Ya, semua itu karena perempuan mudah bimbang dan berharap mempunyai pasangan yang keras kepala untuk selalu membuktikan bahwa dialah perempuan satu-satunya yang sangat dicintai atau disayangi oleh sang lelaki.

Terkesan perempuan egois?

Hellloh…

Wajar toh, perempuan itu makhluk yang complicated dengan segala macam emosi tercetak di hatinya. Beragam macam tingkah laku ajaib mengisi hari-harinya. Dan ya perempuan memang ‘sedikit’ ribet?

 

Kenapa? Ngeluh akan betapa ribetnya perempuan? ya sudah. Jangan memacari/menikahi perempuan. Seperti saya, saya tau betapa ribetnya perempuan, makanya saya ogah memacari/menikahi perempuan.

 

Keras kepala-lah sama saya, mungkin hati saya yang keras akan mencair.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s