Lelaki Menggemaskan

Lelaki ini memang menggemaskan. Sudah sejak sedari awal dulu saya menyukainya, menurut saya tingkah lakunya itu menggemaskan. Meski sudah 3 tahun lebih rasa suka saya padanya lenyap, namun tetap sesekali saya masih merasa dia begitu menggemaskan.

Iya. Lelaki ini lelaki yang sama dengan tokoh dalam kisah ini. Lelaki yang pernah membuat saya berdebar-debar saat pertama kalinya dia pernah mengucapkan selamat malam untuk saya hampir 5 tahun yang lalu. Lalu pada kisah sebelumnya itu dia mengucapkan lagi selamat malam untuk saya setelah sekian lama absen. Lalu malam berikutnya absen terus sampai…

Kemarin malam.

Ya sekitar jam 12 malam saya temukan lagi sms ucapan selamat tidur darinya. Masih dengan gaya sms seperti 5 tahun lalu. Masih menggemaskan. Dan malam itu saya tersenyum lagi akan sms-nya. Setelah selama ini saya hanya menanggapi sms-sms tersebut dengan datar ketika saya memutuskan berhenti menyukainya.

Baiklah. Sebutlah saya perempuan rapuh yang mudah luluh saat hati tengah pilu akan hati yang disakiti seseorang yang disayang dengan terlalu. Ya. Malam itu saya tengah jengah dan syebel sama lelaki yang selama ini rutin mengirimi saya sms atau menelpon namun karena suatu hal maka komunikasi kami ‘terhenti’. Di tengah lamunan saya berharap ada sms yang masuk darinya, malah ponsel saya berdering karena ada  sms masuk dari lelaki lain yang saya sebut lelaki menggemaskan tadi itu.

Dalam pikiran saya cuma satu. Lelaki-lelaki yang pernah ada di hidup saya yang lalu pergi karena hati gak bisa nyatu, entah kenapa saya rasa gak pernah benar-benar pergi. Sebutlah seperti kejadian malam kemarin. Ketika saya syebel sendiri nerima kenyataan, salah satu dari mereka hadir sebentar dengan cara-cara khas mereka yang selalu mampu membuat saya tersenyum di kala tak diacuhkan begini.

Lelaki menggemaskan itu, berhasil membuat saya tersenyum dan merasa  ‘nyaman’ sesaat dengan memikirkan bahwa dia yang sekarang entah berada di propinsi mana di negara ini dan entah sedang melakukan apa, setidaknya mengingat saya sebelum tidurnya.

Atau ketika saya sakit tiba-tiba di bulan lalu. Ketika saya telah memberikan ‘sinyal’ kepada dia  yang saya harap menemani saya ketika saya sakit itu. Malah gak sedikitpun menanggapi sakit saya. Ajaibnya, ada lelaki lain yang dengan tiba-tiba menelepon saya malam itu hanya untuk mengetahui keadaan saya. Katanya, dia ‘merasa’ ingin tau kabar saya saat ini. Dan ya, kabar saya sakit. Maka malam itu, ketika yang diharap tak hadir, kalau boleh jujur saya tersentuh dengan kehadiran lelaki lain ini yang begitu perhatian sama saya. Setidaknya saya merasa, ada yang memperhatikan saya.

Hmm..

Apa ya?

Mudah terpengaruh banget ya kayaknya saya?

Entahlah, tapi setidaknya saya merasa ‘ada’ untuk orang lain ketika hati saya tengah marah begini pada lelaki yang amat sangat saya harap ‘adanya’ untuk saya.

Yaah.. setidaknya saya ini kan tetaplah seorang perempuan. Mudah luluh akan perhatian kecil yang tulus dan perhatian yang diberi.

Kalau sudah begini, kadang sikap saya yang egois sangat berterimakasih pada mereka, lelaki yang tidak pernah benar-benar pergi. Dan selalu ‘datang’ di saat yang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s