Jelmaan Aksara

Aku senang. Merasakan kehangatan tawa yang khas dari pribadimu, yang berbicara dan berceloteh tentang mimpi-mimpi besarmu. ‘Eropa’ kamu bilang, akan kamu singgahi suatu hari. Kutertawa ketika mendengarnya. Kurasa kamu terlalu berlebihan. Tapi, kamu menjawabku dengan jawaban yang membuatku percaya kamu bisa disana suatu hari.—Penikmat Senja—

Aku cemburu di sini. Mengetahui kamu menemani harinya dengan tulus. Meredamkan kekhawatirannya. Membantu dia terlepas dari masalah yang menjepit harinya.

Aku cemburu di sini. Mengetahui kau turut menjaga mimpinya dengan apik. Membuatnya bersemangat meraih cita-citanya.—Kura-Kura Hitam—

Kita nyata. Aku bukanlah angin. Yang kadang terasa adanya, namun tak semudah itu untuk kita sentuh. Aku bukanlah angin yang menjelma badai, di saat hujan turun berderu-beru diikuti petir dan gelegar memenuhi seisi langit. Aku bukanlah angin.—Penikmat Senja—

Seperti katamu, kamu nyata. Aku juga. Kita nyata. Begitu, kan?

Ada jarak. Membentang antara kita. Begitu kan?

Kamu sebut apa? spasi?

Ya spasi. Katamu dengan spasi melengkapi keindahan. Begitu, kan?

Lalu apa lagi?

Batas. Ya ada batas antara kita. tak terlihat dan yang terlihat. Begitu, kan?—Kura-Kura Hitam—

Aku sedang melihat hujan. Mendengar orchestra gemuruhnya. Ini moment terbaik saat di kantor tak ada yang berarti untuk kuperbuat. Dan membiarkan aku sendiri untuk berpikir. Mengingat aksara-aksara yang terangkai dan menebak alurnya. Dan aku tersenyum. Ada hujan.

Deras. Sangat deras. Aku suka. Menikmati suaranya yang ribut menggemuruh. Aku suka.—Kura-Kura Hitam—

Untukmu yang mencintai hujan. Dengan segala keistimewaannya.

Untukmu yang selalu larut dalam rintik dan butir hujan. Baik ketika ia turun dalam bentuk gerimis atau bahkan dalam deras sekali pun.

Untukmu yang mencintai hujan. Dengan segala keistimewaannya.

Meski, hujan menghadirkan rasa dingin yang menjalar di sekujur badanku. Senyummu, perhatianmu, rindumu. Dengan manisnya, perlahan mulai kembali menghangatkanku.

Untukmu yang selalu larut dalam rintik dan butir hujan. Baik ketika ia turun dalam bentuk gerimis atau bahkan dalam deras sekali pun.—Penikmat Senja—

Secangkir teh manis hangat di genggaman tangan kananku melayangkan ingatanku pada aksaramu. Kamu bertanya, seperti apa makna aksaramu bagiku, aku rasa sama seperti secangkir teh hangat di genggamanku.—Kura-Kura Hitam—

Terima kasih.

Untuk secangkir rindu yang kau bagi melalui suaramu. Untuk sebentuk perhatian yang tak pernah lepas. Untuk amarah yang kau hilangkan dan ganti dengan senyuman. Aku sangat beruntung.

Untukmu yang hadir di saat dingin menyapaku.—Penikmat Senja—

Aku masih sangat malu. Yang aku tahu, aku memang belum pernah sekali pun bertemu dengan kamu. Aku berharap, aku masih bisa dapat kesempatan untuk tahu lebih tentang kamu. Aku senang bisa mengenalmu, setidaknya, aku merasakan sesuatu yang berbeda, ketika aku menulis ini.—Penikmat Senja—

Aah.. harus bagaimana aku berhenti tersenyum bila kau terus tanpa henti membuatku tersenyum? Tidakkah kau tau aku kelabakan menutupi senyum demi mengundang tanya dan perhatian sekitarku? Tidakkah kau tau aku berusaha keras mengontrol rona merah wajahku yang lalu aku tahu sia-sia?—Kura-Kura Hitam—

Sedari awal kita bersama, aku sudah tidak lagi menjadi ‘aku’ yang sama. Rasa yang kini hadir tak pernah bisa kubohongi. Aku menyayangimu.—Penikmat Senja—

Saya senang. Dan untuk itu terima kasih banyak saya ucapkan “untukmu”. Tak perduli apa alasanmu dibalik semua yang telah kamu lakukan. Saya gak mau tau karena ini sudah cukup. Lebih dari cukup.

Benar-benar terima kasih untuk kamu. Untuk setiap cerita yang kamu bagikan untuk saya.—Kura-Kura Hitam—

Mulai kini hingga dua ribu seratus sembilan puluh hari yang akan datang, aku masih akan menjaga rasa ini untukmu, aku masih akan tetap berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Meski kita tahu, esok, kan kita temukan banyak halang dan rintang. Meski kita tahu, esok, kan kita dapatkan lagi jarak, batas, dan waktu itu sedikit demi sedikit mengusik rasa yang kita jalin kini.—Penikmat Senja—

Bila di senja ke seribu kamu ingin aku tak ada untuk menemanimu. Tak mengapa. Aku biarkan. Tapi aku ingin kamu tau, aku sangat berterima kasih akan kesempatan yang kamu berikan untukku agar bisa menikmati sembilan ratus sembilan puluh sembilan senja bersama.—Kura-Kura Hitam—

Kuarahkan tanganku ke tempat dimana ponselku kusimpan. Aku gerakkan tanganku cepat. Aku kirimkan pesanku.

“RMY. Really Miss You.”—Penikmat Senja—

Senyum tercipta dari dua bibirku. Lantas tanganku menggerakkan jemari menari di atas screen ponsel.

“So do I”

Message Sent.—Kura-Kura Hitam—

Sumber: Kura-Kura dan Penikmat Senja

Advertisements

4 thoughts on “Jelmaan Aksara

    1. Ini romantis? sayakamu bilang romantis?
      #ngakak sampai Mexico

      ehem..
      maaf.

      saya gak romantis.
      beneran.
      cuma saya pandai beradaptasi (mungkin?)
      yaah.. kalau ada orang yang menulis buat saya, maka saya bisa membalas tulisannya dengan gaya yang kurang lebih senada.
      jadi, ini semua bukan saya yang mulai. karena dimulai sama Penikmat Senja-lah maka saya jadi beromantis ria gini 😀

  1. Ya Ampuunn, Intan!
    Orang galau gak boleh baca ini…
    Bisa bikin mewek antara sirik dan terharu
    tapi sambil terbuai manis karena bahasanya romantis abis! :p
    *geje deh

    Keren! Keren!
    *cari tissue

    1. Waduh.. aku jadi bingung ini mesti senang atau kalut. Soalnya berindikasi ganda sih bagi yang baca kayak kata kamu 😛

      tapi makasih loh pujiannya. eh.. pujian, kan?
      *nyodorin tissue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s