Menolong Gak Pake Pamrih, kan?

Kenapa kita gak bisa menjadi manusia tanpa pamrih? Gak semua butiran keringat kita harus menghasilkan uang, kan?

Iya. Kita memang bekerja demi menumpuk rupiah demi rupiah. Tapi ada dalam bagian pekerjaan kita itu yang sifatnya membantu. Membantu itu ya kalau bisa tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan rupiah ikut terseret mengelap keringat.

Saya, bekerja di bagian finance. Karena perusahaannya masih seumur jagung dan belum beres ini ituh maka sistem pembagian gajinya masih manual. Masih di tarok2 di amplop. Masih numpuk-numpuk rupiah untuk mereka yang gajinya belasan hingga puluhan juta. Masih sederhana sekali. Di suatu waktu, ada seorang rekan kantor yang sedang pulang ke kampungnya saat gaji dibagikan. Saya memberikan dia informasi kalau gaji sudah ada, lalu dia meminta saya menolongnya untuk mentransfer sejumlah uang miliknya ke sederet no rekening. Aah. Perkara gampang ini. Hanya bawa segepok uang itu dan pergi ke bank. Beres.

Si rekan kerja memberi pesan pada saya agar saya mengambil sejumlah rupiah untuk saya sebagai ganti ongkos capek saya. Ketika berada di bank saya kirimkan uang itu sejumlah gaji dia seutuhnya. Setelah uang diterima, ia bertanya kenapa saya tak memotong ‘ongkos capek’ saya. Lalu saya menjawab, ‘saya menolong dengan ikhlas’.

Tahaaaan..

Bukan mau bermuka munafik. Bukan.

Bukan juga tak cinta rupiah. Sama sekali bukan malah.

Tapi seperti yang selalu saya yakini. Menolong itu bukan untuk mengharap pamrih. Menolong itu semata-mata tugas saya sebagai rekan kerjanya. Menolong itu hanya agar saya dapat berguna. Ya ituh sajah. Eh tapi nih ya, kalau gajinya rekan saya itu puluhan juta mungkin saya gak sungkan untuk mengambil ‘ongkos capek’ tawarannya *dijitak*😀

Di dunia ini ada yang namanya bekerja untuk memperkaya diri agar bisa membeli sepatu seperti yang saya lakukan. Akan tetapi di dunia ini juga mempunyai kata ‘menolong/membantu’ yang mana kalau bisa dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan. Jangankan untuk mengharap uang, mengharapkan ditraktir ngopi pun sepertinya tidak usah. Tapi kalau memang orang itu rela mentraktir kita sih, sepertinya gak baik menolak rejeki😀

2 thoughts on “Menolong Gak Pake Pamrih, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s