(Bila) Lu Gue End!

Ada beragam alasan yang bisa saya kemukakan kenapa saya ogah menjalin hubungan pacaran. Alasan-alasan beragam itu terus membawa saya menjalani kehidupan single hingga umur saya menjelang 23. Ragam alasan itu ada yang masuk akal dan tak kurang yang konyol. Ada yang serius memandang dari sudut pandang agama ada juga hanya akal-akalan saya yang gak pernah waras. Hingga akhirnya saya mencoba waras. Mencoba menjadi perempuan pada umumnya. Mencoba berpacaran.

Punya pacar. Suatu hal baru yang dihadapi oleh saya meskipun umur udah pantes untuk menggendong anak (gaya hidup di Aceh). Singkat cerita saya punya pacar. Dan.. tetap saja alasan saya males untuk berpacaran muncul. Mari kita bahas salah satunya.

Saya pernah menulisnya disini.

Ini dia. PACAR adalah MANTAN yang Tertunda. Silahkan baca bila berminat. Bila tidak lanjutkan saja membaca ini.

Berpacaran pasti punya resiko PUTUS. PUTUS=BERPISAH. Yah begitulah adanya. Saya sungguh gak tahan sama yang namanya perpisahan. Ya. Selain perpisahan saya juga gak suka kata kehilangan. Dan saya juga orang yang gak suka kata kelaparan. Okeh. Sebelum saya makin ngawur mari kita fokuskan saja sama ‘putus’ dan ‘berpisah’.

Saya gak menyukai perpisahan. Sebagian dari kalian juga mungkin seperti saya. begitu halnya dalam berpacaran. Saya takut putus. Takut?

Enggan lebih tepatnya.

Yaah.. anggap saja saya putus dengan pacar saya yang sekarang. Nelangsa pasti saya. Saya gak menjanjikan adegan berurai air mata di atas ranjang atau patah hati pengen bunuh diri. Gak. Insyaallah saya gak ngelakuin hal itu. Tapi saya yakin saya bakal nelangsa kali ini bila saya putus. Sehari dua hari paling cepat. Atau seminggu paling lama. Karena kalau lebih dari seminggu itu gak baik buat kesehatan.

Setelah putus efeknya pasti ‘perpisahan’ yang paling saya benci ituh. Juga ‘kehilangan’ apa-apa yang telah menjadi kebiasaan. Semisal sms-smsnya, telepon, atau tulisannya buat saya.

Nah, yang terakhir itu. Tulisan. Wuaaaaaaaaah… ini sesuatu loh.

Apa yang menjadi kenangan kalian dengan pacar kalian? Poto bersama? Musik? Tempat favorite? Yah bisa apa aja. Tapi saya dan pacar saya ini yang menjadi ‘kenangan’ tentunya tulisan-tulisan kami. Banyak tulisan saya untuknya dan banyak tulisan dia untuk saya. Nah kalau kami berpisah pasti inilah hal yang paling menyakitkan.

Apa itu?

Membaca kembali tulisan-tulisan saya untuk dia atau tulisan dia untuk saya.

Setiap ngebuka blog mungkin kami akan kejang-kejang. Karena apa? karena kenangan dan cerita kami ada disini. Satu hal lagi bagi dia, dia membuat buku yang ‘ada’ saya-nya di situh. Nah, saya jadi mikir, kalau saya suatu kelak menyakitinya apa gak pengen dia bakar tuh buku?

Miris. Ketika suatu hal paling berarti ketika menjalani hubungan, malah berubah menjadi suatu racun yang menyerap habis energy kebahagian di kala putus.

Yah.. itulah hal paling gak enaknya kalau putus. Dan itulah kenapa saya takut putus. Nah itu juga kenapa saya takut pacaran. Konyol yah?

Iyah. Saya emang konyol.

Pacar adalah Mantan yang Tertunda.

Entahlah…

Sampai kapan kutukan kalimat itu akan berakhir pada saya atau pada anda?

Ketika kamu selalu serius tapi kamu ‘gak pernah bisa’ berbica serius dengan saya. Ironis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s