(Bukan) Melamar Kerja

Saya baru sampai di kantor sepulang dari bank ketika saya melihat lelaki itu mengintip-ngintip kantor saya melalui pintu kaca hitam di depan. Dengan kemeja hijau, celana rapi tersetrika dan sepatu yang bersih gak mungkin ini abang penjual mie depan kantor menagih pembayaran makan siangku kemarin, pikirku. Saya sapa lelaki ini, “Selamat pagi”

Tampak badanya bergidik terkejut lalu dia menoleh kepada saya. Giliran saya yang terkejut. Cakep. Saya senyum dan bertanya, “Ada perlu apa ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”

Jleb. Saya lemes seketika. Dia tersenyum. Cakep banget.

“Ah iya. Ini saya mau mencoba masukin lamaran” ujarnya sambil menyerahkan amplop coklat ke tangan saya

“Oh.. iya. Makasih, Pak. Nanti akan saya kasih ke HRD-nya” saya senyum. Berharap senyum saya cukup menawan. Dan berharap perusahaan saya membutuhkan lelaki ini bergabung di sini. Aah lumayan. Bisa cuci mata.

“Eh jangan. Jangan kasih ke HRD” ucapnya

“Loh? Jadi ini lamaran mau diapakan kalau bukan ke HRD?” saya heran

“Anda saja yang buka” jawabnya sambil tersipu malu.

“Saya bukan bagian HRD, Pak. Saya accounting” Jawab saya makin heran.

“Iya saya tau Anda bagian accounting. Maka itu saya berharap neraca cinta kita selalu balance. Anda cinta Saya. Saya cinta Anda.” Jawabnya sambil tetep senyum sumringah.

“Bakbudik”* saya terkaget-kaget

“Ini surat lamaran ditujukan bukan untuk perusahaan ini. Tetapi untuk Anda. Mohon dipertimbangkan ya.” Ucapnya menutupi perbincangan dan berlalu begitu saja meninggalkan saya yang bengong memegang amplop coklat berisi surat lamaran.

Sejurus kemudian saya tersadar dan segera menuju meja kerja demi sesegera mungkin membuka surat lamaran itu. Saya baca kalimat ‘dapat menjadi pendamping Anda’ dengan seksama. Lalu saya perhatikan CV-nya.

Kemampuan:
1. Mampu mengoperasikan hati anda agar terus senang. Ya Cuma ANDA.

2. Mampu berinteraksi dengan baik.

3. Berpenampilan MENARIK. Bukankah Anda juga mengakuinya?

Selebih saya tak perduli lagi. Mata saya kembali meliar ke bagian atas CV. No hape-nya.

Saya ambil hp saya dan mengetak-ngetikkan sederet kalimat.

“Sehubungan dengan surat lamaran yang telah saudara kirim ke saya, maka dengan ini saya harap kesediaan saudara untuk dapat hadir pada tahap Wawancara Tahap Awal pada hari Minggu pukul 16.30 WIB di Café Cinta dengan berpakaian yang rapi”**

*Bakbudik. Suatu ucapan jelmaan dari ekspresi terkejut yang sering digunakan orang Aceh.

** Kira-kira beginilah redaksi kalimat sms yang saya dapati bila saya dipanggil untuk wawancara kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s