Naik Pesawat

Seorang rekan kantor saya pernah bersabda bahwa bagaimanapun juga ia tak suka naik pesawat. Lebih jelas dia kemudian menggunakan kata ‘takut’.

Saya terbahak. 3 rekan yang lain ikut menimpali bahakan saya.

Lalu dia berseloroh lagi, “Mending naik bus. Secepat apapun masih berani.”

“Yaah.. naik bus ke Bengkulu bisa 3 hari-3 malam, Pak. Itu badan gak pegel linu jadinya”

“Yaah.. kalo perginya gak mendesak kayak gini, mending pegel linu selama 3 hari deh, Tan ketimbang naik pesawat”

Bahakan kembali terdengar. Riuh.

Rekan kerja saya ini berasal dari Medan. Kerja di Banda Aceh. Inget sama kecelakaan pesawat yang alih-alih mendarat di landasan bandara malah gemulainya jatuh di pemukiman warga? Nah. Itu dia asal-muasal traumanya si Bapak satu anak ini parno sama pesawat.

Dulunya sebelum dia jujur mengatakan ketakukan sama pesawat saya sempet heran kenapa dia selalu memilih transportasi darat ketika jadwal cutinya tiba. Padahal kan biaya transportasi ditanggung sama perusahaan, kenapa gak naik pesawat aja coba. Cepet dan nyaman. Eh nyaman? Kata siapa coba?

“Naik pesawat. Resiko kematian memang tinggi. Kalau pesawat jatuh jaraaaaaaaaaang banget kita bisa selamat.” Argument rekan saya itu.

“Ya ela, Pak. Kalau emang mati dimana aja kita bisa mati, Pak.”

“Bukan soal kematiannya, Tan. Nih, ya. Kalo naik pesawat kalau pesawatnya jatuh. Kita emang udah ikhlasin aja mati. Tapi ini nih gak enaknya. Jasad kita gak utuh. Badan disini kepala nyangkut di pohon. Ngeri. Dulu saya liat yang kayak gitu di Medan. Badannya gak lengkap. Ada yang tangannya ilang. Terus kepalanya sebelah. Macam-macamlah. Ngeri.” Jelasnya lebih lanjut sambil menghisap rokok di jemarinya.

“Itu kemarin karena jatuhnya di perumahan, Tan. Masih mending bisa juga ditemukan mayatnya meski sepotong-sepotong. Lah kalo jatuhnya di lautan? Di hutan belantara? Gimana nemuin mayat saya? Kasihan nanti keluarga saya mau ziarah bingung ziarah kemana. Ataupun kalau iya itu DIKIRA mayat saya. Mereka mendoakan saya diatas kuburan yang ternyata bukan jasad saya. Saya kan bisa stress Tan, mau manggil-manggil mereka bilang, ‘bukan disitu. Saya disini’ ya mana kedengaran, Tan. Saya udah mati” kembali ia menjelaskan panjang lebar.

Bahakan kembali terdengar dari saya. hemmm.. jadi itulah kenapa rekan saya ini selalu pulang kampung menggunakan Bus alih-alih Pesawat yang padahal biaya ditanggung perusahaan. Aah saya kira dia ingin menghemat kas perusahaan =))

Ps: Ya. Saya kali ini hanya ingin menulis. Tanpa ingin mencari makna atau apapun dibalik cerita ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s