Dua Garis yang Berpisah

Kita memang pernah berandai-andai agar jalan yang kita lalui adalah jalan yang sama. Itu dulu.

Aku pernah merinduimu. Pernah pula menurunkan gengsi demi mengakui rinduku padamu. Sekali saja. Hanya sekali. Ketika jeda membuat aku begitu merindukanmu. Lalu dalam sekejap. Dengan mudahnya kau membuat rinduku tak berarti karena kau merongrongku dengan hadirmu yang luar biasa.
Aku pernah merinduimu. Sekali.

Mengingat masa lalu kita yang pernah kita lalui bersama memang indah, ironisnya kebersamaan kita lebih sering membuat urat leher kita muncul. Aah.. aku bahkan menertawai kisah kita itu sekarang dalam simpul senyumku. Tapi yah, kuakui dulu kau memberi arti dalam hariku sebelum aku memintamu meninggalkanku karena aku merasa kita berdiri di ordinat yang sama. Hanya membuat garis lurus sejajar yang sampai kapanpun tak akan bersinggungan. Hanya bersisian.

Aku tak tau ini cinta atau bukan. Aku merasa bukan. Sekalipun aku merinduimu, sekalipun aku pernah tersenyum akan hadirmu, sekalipun aku menyukai moment kebersamaan kita yang hanya berisi pertengkaran. Egomu, egoku.

Sekalipun tau kita seperti tak bisa disatukan, aku membuat harap. Kelak kamu-lah lelaki super sabar yang akan menemani sisa hariku. Karena aku pikir, hanya kamu-lah yang mampu menghadapi segala sifat jelekku.

Cuma pengen menghapus jejak lama, Ntan.
Krn hidup terus brlanjut
Jg pgen menelusuri jlan yg berbeda

Baru saja aku menemukan barisan kalimat itu darimu melalui pesan di FB.

Aah iya. Maaf. Aku sudah duluan mengirimkan kenangan masa laluku jauh ke Suriah. Aku lebih dulu darimu membuat keputusan. Tapi aku senang, akhirnya kamu juga melakukan hal yang sama. Menghapusku seperti aku menghapusmu. Meniti jalan yang berbeda seperti yang sedang aku lakukan sekarang. Dengan orang yang kusayang sekarang. yaah.. kali ini aku menggunakan kata ‘sayang’ bukan sekedar ‘suka’. Maka aku pun berdoa kamu-pun menemukan seseorang yang kamu ‘sayang’ dan pantas untuk kamu jadikan pendamping.

Akhirnya kita sama-sama menyerah pada garis lurus kita yang terus hanya bersisian.

2 thoughts on “Dua Garis yang Berpisah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s