Mencandui Nulis

“Ngapain sih suka kali nulis?” Tanya seorang teman yang ditujukan ke saya

“Hem.. jawabannya mungkin sama aja kayak kalo Intan tanya ‘ngapain abang ngerokok?’” Jawab saya ringkas sekaligus menyindir dia sekaligus membuat dia ngerti kalau ini bukan hal yang bisa ditanya bagi para pecandu.

 

Menulis bagi pecandu nulis itu gak usah dipertanyakan lagi untuk apa. Penting atau gak penting bagi orang lain tapi teramat penting pagi si pecandu nulis. Karena dengan menulis pecandu nulis berusaha menjelmakan beban menjadi tiada yang ditransformasikan melalui rangkaian aksara.

 

Lantas ketika seorang pecandu rokok bertanya pada saya kenapa saya mencandui nulis itu bukankah sama saja seperti dia yang berusaha menjelmakan beban menjadi tiada yang ditranformasikan dalam bentuk asap yang sialnya MERUGIKAN ORANG LAIN yang turut menghirupnya?

 

Lantas apa salahnya mencandui nulis? Tak merugikan siapapun. Tak merugikan orang lain. Benar, kan? Saya malah tak pernah membuat rugi teman saya itu ketika menulis. Tapi jelas dia merugikan saya ketika dia merokok.

 

Menulis pun bukan hanya untuk menghilangkan beban tapi juga mengabadikan keceriaan, menambah daya ingat, membuka wawasan, berbagi pada orang lain. Nah, kalo sudah begini, malah jauh sekali beda pecandu nulis dengan pecandu rokok, kan?

 

Nah, saat kita melakukan sesuatu yang positif kenapa harus dipermasalahkan?

 

Menulis bekerja untuk keabadian (Pramoedya Ananta Toer).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s