Test Baca Al-Quran: Tentang Bakat atau Hukum?

Seorang teman menulis pendapatnya perihal aksi baca Al-Quran para calon walikota Banda Aceh beberapa hari lalu. Untuk lebih jelasnya kalau kamu punya waktu lebih kunjungi lapak teman saya tersebut disini. Oh ya kalau kamu perempuan, kebetulan temen saya ini masih single. *semoga bisa ditraktir makan pisang goreng Pak Sen karena udah promosiin dirinya :D*

Ya. Demi menjadi calon walikota, bakal calon walikota diminta melakukan test baca Al-Quran. Yang lulus test inilah yang kemudian dapat melanjutkan perjuangan dengan gelar calon walikota. Yaah.. kalau gak salah gitu deh prosedurnya😛

Saya tertarik akan ulasan teman saya soal membaca Al-Quran dengan irama. Dan betapa ternyata masyarakat menilai kemampuan membaca Al-Quran itu dinilai dari segi seberapa mahir seseorang melakukan irama syahdu dalam melantunkan ayat suci Al-Quran.

Gak bisa dipungkiri memang kalau mengaji dengan menggunakan irama itu lebih enak didenger ketimbang mengaji tanpa irama. Tapi kalau sudah bicara irama mengaji ini berarti tentang seni dalam mengaji. Dimana seni berirama itu dibagi menjadi 7 bagian: Sikah, Shaba, Bayati, Hijaz, Nahwan, (dan saya lupa dua lagi apa). Nah, seni, irama, bukankah ini semua ada korelasinya dengan bakat?

Mengaji dengan irama itu tak bedanya dengan menyanyi. Ini soal bakat. Semua orang bisa nyanyi tapi ada yang fals ada yang gak, maka dari inilah penyanyi ada yang disebut berbakat atau cuman modal tampang saja. Begitu juga mengaji dengan irama. Gak semua orang bisa karena gak semua orang itu melek nada. Gak semua orang punya jiwa seni dalam suara.

Nah.. bagaimana bisa kita menilai seseorang itu mahir mengaji hanya lewat nada? Apalagi untuk kasus test baca Al-Quran para bakal calon walikota. Mereka kan bukan sedang ikut MTQ dimana gak hanya tajwid yang dinilai tetapi juga seni membaca Al-Qurannya. Kalau toh pengujian untuk bakal calon walikota itu hanya sebatas mampu atau tidaknya membaca Al-Quran berarti ini soal tajwid.

Dalam mengaji yang baik dan benar itu tajwidlah yang berperan. Tajwidlah hukum baca Al-Quran yang baik dan benar. Irama itu bonus bagi yang berbakat sedangkan tajwid wajib bagi semua orang yang ingin benar membaca ayat suci Al-Quran.

Nah.. apabila kita hendak menilai seseorang mampu membaca Al-Quran titik fokusnya adalah benar atau tidaknya tajwid yang dia amalkan bukan merdu tidaknya suaranya. Karena toh kalau dinilai hanya kemerduan suara, bahkan orang Kristen saja mampu melakukannya. Pernah dengar kan soal seorang pendeta atau siapalah yang ‘membaca’ layaknya sedang mengaji dengan penuh irama tapi tau-tau yang dibaca malah kitab injil. Tau kan?

Saat saya SMA saya masih mengaji di sebuah surau dengan seorang ustad. Ada malam-malam tertentu kami belajar soal seni membaca Al-Quran. Nah, saya paling lemah soal ini -Yah suara saya fals amat. Nyanyi potong bebek angsa aja bikin bebek mati-. Ustad tersebut yang tau kelemahan saya ini meminta saya jangan terlalu memaksakan bila memang tidak mampu. Lebih baik saya focus pada tajwidnya jangan usaha membuat irama tapi tajwid terbang ke Ethiopia. Iri sebenarnya melihat teman-teman lain bisa seni irama itu. Apalagi saat ada seorang anak SD (ketika itu sayalah santri tertua, dimana yang umurnya paling dekat sama saya adalah anak SMP) yang mengaji sungguh aduhai sekali iramanya. Tapi sayangnya dia terlalu focus sama irama yang hingga membuat murka ustad saya itu. Katanya “janganlah demi membuat irama yang bagus, tajwid kamu abaikan. Kalau memang 3 harakat jangan buat 5 harakat” omel ustad saya itu.

Begitulah. Antara irama dan tajwid tentulah tajwid yang lebih penting. Karena Tajwid itu hukum sedangkan irama adalah seni.

Lalu teman saya itu juga menulis perihal ‘membaca Al-Quran dengan terbata-bata’ yang mana juga dinilai minus dalam test baca Al-Quran

Kalau soal ini saya berpendapat begini.

  1. Terbata-bata karena faktor jarangnya Al-Quran itu dibaca. Seorang guru ngaji saya yang entah yang mana (saya punya banyak guru ngaji sesuai dengan dimana saya tinggal) pernah berkata, “Kalau kita jarang baca Al-Quran maka dia akan jauh sama kita”

Well, benar adanya. Saya pernah memasuki masa-masa dimana Al-Quran itu hanyalah berupa pajangan di kamar yang berharap bisa melindungi saya dari berbagai macam kejahatan. Mungkin saat itu adalah awal-awal saya kuliah. Jangankan mengaji setiap malam, mengaji Yasiin di malam jumat saja gak saya lakukan. Lalu pernah dalam sebulan di bulan puasa, alih-alih baca Al-Quran saya malah baca komik.

Setelah itu, tiba-tiba saya pengen baca Al-Quran lagi. Tau apa yang terjadi? Lidah saya seolah kelu. Saya masih tau hokum baca Al-Quran tapi lidah saya menjadi tak lancar. Terbata-bata.

2. Soal terbata-bata itu bisa jadi juga karena GUGUP. Toh ini manusiawi sekali. Apalagi bila bakal calon walikota itu belum terbiasa masuk TV😛

Jadi soal terbata-bata itu selama dia mampu membaca sesuai tajwid saya rasa itu gak masalah. Sekali lagi, tujuannya adalah test mampu atau tidaknya membaca Al-Quran. Iya gtu, bang Hendra?

Ps: Tulisan ini sama sekali gak ada hubungannya sama cita-cita saya yang ingin menjadi Walikota Banda Aceh.

Pss: Bisa atau tidaknya seseorang membaca Al-Quran juga tidak bisa menjadi tolak ukur baik atau tidaknya seseorang.

Psss: Kalau saya salah tolong dikomentari. Soalnya ini menyangkut Agama🙂

Pssss:  Para penyanyi itu kalau mengaji pasti bagus lantunannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s