Saya Gak Bisa Liat Tuyul

Setelah beberapa hari belakangan tulisan saya mulai berubah gaya dan gak seperti biasanya, maka kali ini saya ingin kembali ke dunia di mana tulisan saya begitu blak-blakan kayak biasa. Bukan puisi bersirat makna, atau pula prosa terkandung pesan. Ya kini saya mau nulis apa yang saya lihat, dengar dan rasakan dengan kembali ke gaya brutal.

 

Okeh. Kali ini saya ingin membahas soal ALIS.

Ya. Setaun belakangan ini saya jadi bingung sama orang-orang yang ada di sekitar saya. orang-orang terdekat malah yang mengomentari alis saya.

 

Mungkin tahun lalu. Kala ada seorang teman kuliah satu jurusan yang baru kenal kala kami sedang sama-sama nyusun skripsi. Sebelumnya kami gak saling mengenal. Dan beberapa hari setelah kami saling mengenal dan berdiri hadap-hadapan untuk mengantri masuk ke ruangan konsultasi judul skripsi si temen komentar gini: “Tan. Qe (red: kamu) kok gak punya alis?”

Sumpah. Dalam otak saya ini orang gak sopan bener. Baru juga kenal beberapa hari, eh udah main kritik kekurangan orang aja. Apalagi kekurangan fisik.

Bahkan sebelum sempat saya menjawab dia sudah bicara lagi.

“Bisa liat tuyul, gak?”

“Aku pelihara kok. Gak banyak. 2 biji aja. Lumayan buat jajan”

 

Nah.. dialah orangnya yang pertama kali mengatakan kalau saya TAK BER-ALIS. Walaupun sebenarnya saya sadar alis saya tipis saya gak pernah nyadar kalau akhirnya ini jadi masalah bagi orang lain.

 

Beberapa bulan setelah dimulai oleh teman saya itu, tiba-tiba komentar serupa saya dapatkan dari teman SD saya, teman gak seberapa dekat, sepupu yang lama tak bersua, tante yang baru ketemu setelah 5 tahun gak berjumpa, bahkan yang paling menyebalkan adalah ketika dikomentari oleh Bunda (adiknya Ibu) yang notabene setiap 3 hari sekali main ke rumah. Ini bunda apa maksudnya coba saat dia bilang, “Tan.. alisnya kenapa jadi tipis gitu?”

 

Owemjih… dari orok juga udah kayak gini kali, Bun. Apa Bunda juga baru nyadar kalau jidat saya besar dan kuping saya capang? Jangan bilang kalau selama ini Bunda ngeliat saya dengan mata tertutup.

 

Saya protes sama Bunda saya. Protes kenapa juga baru diprotes ini alis setelah 23 tahun dia bersama saya. Salah siapa? Salah alis? Salah hidung jambu saya? salah kuping capang saya? salah jidat tembok cina saya?

 

Murka. Heran. Bingung.

Kenapa baru dipermasalahkan.

 

Lalu. Seorang teman tadi berujar, “Tan. Qe (red: kamu) baru cukur alis ya?”

 

Kontan saya banting-banting laptop dengernya. Mana pernah coba saya cukur alis. Dan kalau dia ngerasa alis saya ini ketipisan, udah sedari pertama kenal dulu juga alis saya kayak gini. Nah.. kenapa dia baru bertanya setelah hampir dua tahun mengenal saya? KENAPA??? Toh selama ini saya gak pernah apa-apakan alis saya. Gak pernah juga dilukis dengan pensil alis guna menimbulkan kesan lebat.

 

Alis saya. Tipis memang. Belum ilang total. Maka dari itu saya gak bisa liat tuyul dan gak bisa saya tangkep satu untuk saya jadikan mesin pencari uang bagi saya.

 

Alis saya. Tipis memang. Dan apakah begitu gak matching-nya sama wajah saya?

 

Entar kalo saya tato alis banyak yang protes juga. Katanya. Bukan krisdayanti. Dan Raul Lemos gak bakal tertarik sama saya.

4 thoughts on “Saya Gak Bisa Liat Tuyul

  1. Eh anu kak …. Gimana kalo area mata ke atas difoto, trus dijadiin propict fb? Jujur, sy jd penasaran…

    *memohon dgn kalem*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s