Mengambil Hati yang Telah Beku

“Ahh kamu ini gak punya hati kayaknya ya. Dingin banget jadi orang”

Itu komentar biasa yang diungkapkan oleh orang-orang yang pernah wara-wiri di hidup saya. Herannya saat kalimat itu diucapkan oleh traineer saya tempat dimana dulu saya hendak akan mengajar. Bertemu baru 3 kali dan jleb.. dia langsung ngasih saya komentar itu. wow… segituh judesnya saya kah?

Iya….. (jawab semua orang dengan serempak)

 

Okeh. Saya dan seorang teman memang pernah mengklaim diri sebagai perempuan tak punya hati. mungkin dulu saat antri pengambilan hati kami telat datang, jadinya gak kebagian. Kadang kami berusaha ‘nyewa’ hati tapi gak cocok. Mau ‘beli’ gak mampu (dua perempuan miskin). Dan jadilah kami menjalani hari tanpa ‘hati’.

 

Setelah bangun tidur di suatu sore, suatu ingatan yang gak pernah muncul tiba-tiba menghampiri dan membuat saya tersadar. Ternyata saya punya hati.

 

Ya.. saya punya hati. Hanya saja sudah sejak lama hati itu saya ‘simpan’. Ternyata bertahun-tahun yang lalu saya sudah memutuskan untuk gak mau menggunakan hati dalam hidup dan lebih senang menggunakan logika yang jadi kebanggaan. Lagian hati itu mudah rusak makanya ia saya simpan sampai saya siap menggunakannya suatu waktu.

 

Hati saya saya bungkus rapat dan kuat. Saya balut berkali-kali sebelum saya masukkan kotak, lalu saya kirim ke Kutub Selatan. Ya.. ternyata begitu perjalanan hidup ‘hati’ saya. Kini saya rasa sudah saatnya saya mengambilnya kembali untuk saya gunakan mewarnai hidup saya.

 

Maka kemarin berangkatlah saya ke Kutub Selatan naik delman istimewa ku-duduk di muka. Saya ambil hati yang terbungkus rapat dalam sebuah kotak yang mulai usang. Saya buka dan tadaaa… hati saya sudah beku. Beuh…gak masalah. Saya bawa pulang ke Aceh.

 

Dan kini hati saya sudah di Banda Aceh sama saya. aah.. untung negara kita negara tropis dan Aceh panasnya gila sekali jadi gampang untuk mencairkan hati saya kembali. Yaah.. hati ini pasti akan ‘melting’ dengan segera. Setelah itu kehidupan saya akan berjalan normal seperti perempuan pada umumnya.

 

Saya gak khawatir lagi kalau nanti ‘hati’ saya rusak atau lecet atau bahkan hancur. Tak mengapa. Hidup memang begitu. Dan begitulah cara kita hidup. Menggunakan hati. Gunakan logika. Dan jadilah manusia utuh.

 

2 thoughts on “Mengambil Hati yang Telah Beku

  1. Saya jatuh cinta pada tulisannya :3

    Saya pun mengalami hal yang sama saat ini. Sayangnya saya belum mengambil hati saya yang tertinggal di kutub utara😀 bhahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s