MELIHAT untuk PERCAYA

Seorang lelaki:

“Lah, kamu kan udah nolak aku, kenapa juga kamu tanya lagi kenapa aku pergi”

Lelaki lain:

“Haa? Jadi Intan pikir abang gak serius? Intan gak serius? Abang serius, Tan. Bener-bener serius suka sama Intan dan mau serius.”

Cowok lain:

“Aku gak tau gimana caranya supaya Intan tau aku bener-bener suka sama Intan. Aku sayang, Tan”

Lelaki lain:

“Apa abang harus mati dulu supaya Intan akhirnya percaya abang sayang sama Intan”

 

Beberapa dialog suram yang pernah terjadi di hidup saya. Ketika saya dengan semena-mena memperlakukan orang lain hanya dengan mengandalkan logika saya. Saat itu sungguh sulit bagi saya mempercayai ada lelaki yang bisa suka sama saya. Karena bila saya duduk di tepi sungai lalu memandang ke dalam airnya saya suka bertanya pada diri sendiri ataupun dengan ikan yang lalu lalang, “apa yang bagusnya dari aku sampai mereka bisa suka? Perempuan masih banyak, kan?”

 

Okeh.. abaikan adegan di tepi sungai itu. Itu tipu muslihat saya. Saya emang bertanya, tapi jangankan bisa sempat duduk di tepi sungai, di depan cermin aja gak saya lakukan adegan dongeng masa lampau itu.

 

Untuk mempercayai perasaan seseorang terhadap saya hampir gak pernah bisa saya lakukan. Karena ternyata saya melupakan atau lebih tepatnya berusaha melupakan kalau ternyata ada suatu formula bagaimana supaya kita mengetahui perasaan seseorang.

Gunakanlah hati untuk mendeteksi hati.

Bukan menggunakan logika untuk mendeteksi hati.

Karena kalau pakai logika sama aja kayak nyuci baju pake odol. Bukan kombinasi yang tepat.

Padahal hanya segampang itu cara untuk tau apakah seseorang benar-benar tulus sama kita. Tapi saya malah membuatnya ribet dan menutup hati untuk gak mudah percaya.

 

Selama ini saya menggunakan logika, udah gitu saya tambah dengan mengasumsikan “aah.. pasti dia main-main” atau “aku kan cuman salah satu kesempatan di depan mata yang dibuang sayang kalau dilewatin” untuk memperparah/ mematikan ketidakpercayaan saya sama lawan jenis. Aah.. saya memproteksi diri terlalu kaku.

 

Yah.. dari dulu saya memang susah percaya akan sesuatu yang  TIDAK TERLIHAT. Saya baru-baru benar-benar mempercayai suatu berita bila saya sudah benar-benar MELIHAT dengan nyata menggunakan kedua mata saya. Yaah.. MELIHAT maka PERCAYA. Itulah saya, suatu keparnoan yang kalau diingat-ingat mirip sama Ayah  saya.  Jadi salahkan beliau menurunkan sifat “ketidakpercayaannya” untuk saya. #anak durhaka # dikutuk # eh.. jadi cantik😛

 

Sifat saya yang susah percaya ini sampai-sampai membuat seorang sahabat saya menaruh syukur sekaligus simpati dengan berujar, “Untung kamu dari lahir udah Islam dan dididik dengan Aqidah dan Fiqih yang bagus. Kalau gak, aku yakin kamu pasti sibuk meragukan keberadaan Tuhan, lalu akhirnya menjadi Atheis. Karena Tuhan emang gak bisa dilihat dengan mata.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s