Cuma Berterima Kasih Saja

Saya pernah beranggapan: Untuk suatu kewajiban ucapan terima kasih tak perlu dilantunkan.

Sejak saya kecil sampai SMA, saya menganggap apa-apa yang menjadi kewajiban seseorang kepada seseorang lainnya tak perlu sampai terucapkan kata ‘terima kasih’. Misalnya, tugas Ayah saya mengantarkan saya ke sekolah, atau tugas Ibu saya menjaga saya ketika saya sakit.

Dangkal. Bacok aja saya. Tapi bisakah ditunda? Karena kalau kamu beneran bacok saya sekarang dan saya mati saya gak bisa ngelanjutin tulisan ini. Juga saya akan berakhir dengan mati penasaran dan ngesot di blog ini. Jadi, jangan heran entar kalo tiba-tiba ada postingan yang berdarah-darah.

Okeh..

Bisa ditunda kan?

Makasih ya..

(Alhamdulillah, gila aja kalo mati muda belom kawin)

Hingga suatu ketika (semasa kuliah), entah saya kejedot tiang listrik atau ketimpa buah jemblang (kamu tau buah jemblang, teman?), hingga akhirnya pikiran saya yang dangkal berubah haluan.

Ucaplah kata ‘terima kasih’ atas apapun yang telah orang perbuat kepadamu.

Sejak itu, saya mengucapkan ‘terima kasih’ setiap ayah, abang atau adik saya mengantarkan saya ke suatu tempat.

Sejak itu, saya mengucapkan ‘terima kasih’ kepada Ibu saya yang udah mau repot mijit kaki saya kalau ini kaki ngulah.

Sejak itu, saya mengucapkan ‘terima kasih’ kepada pelayan yang mengantarkan makanan yang saya pesan di suatu tempat makan.

Lalu, untuk sopir kantor yang telah mengantarkan saya ke bank saya ucapkan terima kasih.

Padahal bisa dibilang, hal yang diatas adalah sebuah kewajiban, kan?

Nah.. untuk suatu kewajiban-pun kita memang harus mengucapkan terima kasih, sebagai penghargaan atas apa yang telah seseorang lakukan kepada kita. Dan tentunya akan membuat orang yang telah menolong kita senang bukan?

Untuk hal yang bukan kewajiban semisal, teman saya mengantarkan saya pulang saya ucapkan terima kasih, untuk pacar saya (dulu) yang telah mau menjemput saya dan mentraktir saya makan juga saya ucapkan terima kasih. Yah.. teman dan pacar sama sekali gak punya kewajiban MUTLAK layaknya keluarga untuk membantu kita, bukan? mereka membantu kita atas dasar tulus dan solidaritas bahkan cinta. Betul, bukan? dan kita memang gak bisa semena-mena sama teman atau pacar, bukan?

Lalu simak kisah teman saya.

Teman saya punya pacar. Beberapa hari yang lalu dia akan menghadapi ujian sidang dan dia harus mengurus ini dan itu untuk keperluan sidangnya. Si pacarnya temen menawarkan diri untuk mengantarkan si temen ngurus ini itu dan bahkan nemenin si temen untuk ke pustaka guna mencari bahan-bahan agar bisa sukses menghadapi ujian sidang yang menentukan masa depan gilang gemilang itu. Selesai urusan beres, dan saat temen dan pacarnya akan berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing karena urusan telah selesai si temen ngucapin kata “makasih ya” untuk pacarnya.

Tau gimana reaksi pacarnya?

Marah.

Iya si pacarnya temen marah. Alasannya adalah, dia gak mau ada ucapan terima kasih karena si temen saya ini adalah pacarnya. Dan si pacar ngerasa udah kewajiban pacar untuk nemenin si temen kemana-mana (iyahh.. pacar sama sopir beda tipis).

Heran. Padahal sama sekali bukan ‘kewajiban’ pacar untuk nganterin kemana-mana (menurut saya) akan tetapi kalau mau nemenin ya boleh. Toh kita juga pasti seneng kan kalo ditemenin. Tapi ya.. kalau ada sesuatu yang telah diperbuat orang untuk kita, sebagai manusia yang telah belajar PPKN (atau PMP kalau kamu lahir di era 85 keatas) kita pasti mengucapkan kata ‘terima kasih’ kan?

Bukan untuk menyepelekan keikhlasannya menolong kita walaupun dia pacar kita. Tapi malah kebalikannya, ungkapan syukur kita dan ungkapan kita menghargai kehadiran dia yang udah mau membantu kita. Iya kan? Bener kan?

Pacar sekalipun. Yang memang udah cinta mati dan siap sedia jadi sopir, kalau kita mau disebut manusia yang beradab kita harus mengucapkan terima kasih. Dia telah menolong kita dan kita harus hargai itu. Ya itu saja.

Jangankan pacar. Kepada contoh-contoh yang merupakan orang-orang yang memang berkewajiban menjaga dan menolong kita pun tetap harus kita ucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih gak pake keluarin duit, gak capek. cuman dua kata singkat saja, jadi kenapa juga kita gak gampang mengucapkannya? Dan untuk yang menerima kenapa mesti sewot? Tinggal bilang, “Iya sama-sama” atau “iya” sambil senyum. Gampang, kan? Aah… dunia bakal indah jadinya, kan? Lihat bunga bermekaran dan burung berkicau. Damai itu indah, teman. (Okeh penutup yang ngawur)

So, terima kasih udah mau baca artikel ini dan gak jadi bacok saya 🙂

Advertisements

One thought on “Cuma Berterima Kasih Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s