Secangkir Teh dan Hujan

Ternyata kamu tak tau seharum apa aroma tanah yang dicumbui hujan. Tak mengapa. Kamu tetap bisa melihat rintiknya juga mendengar suaranya. Karena aku juga tak terlalu peduli akan aroma hujan. Suaranya. Dengarlah. Merdu. Nikmatilah dan kamu mungkin akan tau kenapa aku suka.

Secangkir teh manis hangat di genggaman tangan kananku melayangkan ingatanku pada aksaramu. Kamu bertanya, seperti apa makna aksaramu bagiku, aku rasa sama seperti secangkir teh hangat di genggamanku. Tak terlalu manis karena gulanya hanya satu sendok saja. Manisnya pas. Dan hangat yang menjalari kerongkonganku sangat menenangkan, terlebih kala migraine menghampiri. Ya aksaramu seperti teh manis hangat. Sangat berarti buatku.

Aku menyebutmu aksara yang menjelma menjadi suara. Ya itulah kamu. Katamu, aksara tak hanya sekedar aksara karena akan membentuk suatu kisah. Maka aku ingin merangkai aksara juga agar suatu kisah menjadi ada.

Ya aksara…

Dengan inilah kita bertemu.

Aksara. Rangakaian aksaramu dan rangkaian aksaraku.

Nikmatilah senjamu. Aku akan menemani.

Kadang. Hadirlah disini, di ruangku untuk menemaniku menikmati hujan. Tenang saja. aku juga tidak menikmati aromanya. Aku suka suaranya.

Tapi sayangnya, hujan dan senja yang indah tak pernah bersama dalam ada dalam satu moment.

Advertisements

2 thoughts on “Secangkir Teh dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s