Pro dan Kontra Perihal LDR

Istilahnya Pacaran Jarak Jauh yang kemudian disingkat dengan PAJERO (Huruf E-nya dari mana?) atau istilah yang lebih gahul punya barang adalah Long Distance Relationship (singkatnya LDR). Istilah ini dipakai untuk dua insan dimabuk cinta yang memiliki hubungan tetapi gak berada dalam satu daerah/pulau/negara yang sama. yeah.. you know lah..

Semalam saya berbincang-bincang dengan seorang teman melalui telepon. Dan kami membahas soal LDR. Saya kontra, dia pro. Menurut saya, gak ada artinya menjalin hubungan bila harus dipisahkan oleh jarak. Menjadi gak nyata. Walaupun sosok yang kita pacari benar-benar makhluk hidup tetapi akan jadi gak nyata karena jarak dan intensitas waktu ketemu yang terlaluuuuu sedikit. Saya jadi teringat seorang teman dekat saya yang menjalin hubungan LDR antara Banda Aceh- Bekasi. Sampai beda pulau loh. Menurut saya, pacaran kayak yang dilakukan teman saya ini sungguh berat di ongkos dan seakan tiada berguna karena gak bisa bertatap wajah apabila rindu memuncak atau ingin bersandar saat dunia memukul batin terlalu kejam. Ya.. LDR bagi saya, mending gak usah. Tapi LDR itu masih relative juga. Kalau masih satu propinsi beda kabupaten/kotamadya sih saya masih bisa toleransi. Hanya membutuhka waktu yang sebentar dan dana yang relative sedikit bila ingin bertemu. Tapi kalau sudah kayak temen saya itu, mahal di ongkos, kan?

Saya cuma mau logis saja. kalau LDR itu gak ada yang bisa diandalkan kecuali sebuah benda seukuran telapak tangan yang berfungsi merangkai aksara ataupun menjalin suara. Ya. Hanya itu. padahal menurut saya, dalam suatu hubungan, kehadiran fisik juga dibutuhkan. Menatap langsung jauh lebih enak ketimbang hanya mendengar suara.

Bukan. Maksud saya, bukan mau melakukan kontak fisik dalam bentuk apapun. Saya juga ogah kalau soal itu. hanya saja, oh.. begitulah. Saya butuh yang nyata yang bisa saya lihat langsung. Bukan berarti juga harus bertemu setiap hari. Harus ada setiap malam Minggu. Come on.. sejak kapan saya bersikap jablay kayak gitu? Bukan masalah harus ketemu setiap harinya, hanya saja, sekali lagi saya ucapkan. Saya mau sesuatu yang nyata. Yang bisa dilihat. Langsung.

Lalu, teman saya yang pro memberi saya sebuah pertanyaan.

When your boyfriend can’t eat with you and can’t walk out together with you. So, what’s for having boyfriend?

Aah… desperate saya. saya lupa rangkaian kata yang dia ucapkan udah gitu bahasa Inggris saya pas-pasan pulak.

Jadi saya artikan aja pertanyaan dia menjadi bahasa Indonesia yak. Inget sumpah pemuda, kan? #ngeles 😀

Apabila pacarmu gak bisa makan bersama dengan mu dan tidak bisa pergi denganmu bersama-sama, maka apa gunanya mempunyai pacar?

Saya jawab: GAK ADA GUNANYA.

Singkat. Lugas. Jelas.

Jawaban teman saya yang pro LDR adalah:

gak usah pake bahasa Inggris lagi ya? Langsung saya translate aja. #ketauan bego nya

hemmm..

bah. Saya lupa dia bilang apa.

intinya dari rangkaian kata yang diucapkan adalah:

Gak penting bisa ketemu atau gak. Tapi sangat menyenangkan saat kita tau bahwa di dunia ini ada ada orang lain (selain orang tua, teman) yang mencintai kita dengan tulus. Yang lalu, bisa memberikan sebentuk perhatian kecil walau dengan sebuah pesan berisi tanya “apa kabar?”

Kamu tau? That’s mean a lot for me, Tan

Saya?

Diem.

Okeh. It’s nice. Very-very nice when I know there’s someone who love me even we’re separated by distance. Sejujurnya, saya tergugah kalau ada yang bisa seperti itu sama saya. tapi…

Ya.. pake tapi. Saat memiliki hubungan jarak jauh, saya gak bisa berharap lebih. Dan saya tipikal orang yang selalu memperhitungkan hal buruk kala hal baik belum tentu datang. Maksudnya adalah, saya gak mau muluk-muluk memiliki hubungan jarak jauh yang berakhir bahagia. Cukup berusahan menikmati saja tanpa harus merajut mimpi di dalamnya. Karena tetap saja. LDR tak “nyata” bagi saya.

Ah iya.. kalau saya sempat ngopi dengan teman saya yang punya cinta antara Banda Aceh-Bekasi, maka saya akan kasih pertanyaan dari teman saya ini kepadanya. Apa gunanya mempunyai pacar bila tak ada disisi untuk melewati hari?

Karena kalau saya langsung bilang, “ngapain kamu pacaran jarak jauh? Kayaknya gak ada gunanya-lah”. Saya yakin saya akan disiram pake Teh Tarik yang tengah ia minum. Yah.. soal LDR tetap ada cinta kan di dalamnya? Dan mereka yang mengerti cinta yang tau. Saya? saya sedang mempelajari cinta dengan hati tak lagi hanya dengan logika.

Advertisements

One thought on “Pro dan Kontra Perihal LDR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s