Moment Berbuka Puasa dan Saya yang Aneh (?)

Sebenernya ini suatu kisah yang terjadi pada bulan puasa kemarin ini. Saat undangan berbuka bersama hadir satu persatu dari teman-teman dari berbagai latar belakang. Undangan temen SD, temen SMP, temen SMA, temen kuliah, temen ngumpul-ngumpul, temen satu geng, temen organisasi dan lain sebagainya.

 

Telat memang, saya bahas sekarang, tapi ya emang kemarin itu ada saja yang menghalangi saya untuk menulis postingan ini walaupun banyak rangkaian kata yang ingin terajut.

 

Jadi begini, saat saya menghadiri undangan berbuka bersama itu sebenernya saya menikmatinya. Bukan menikmati makanannya, karena kalau soal makanan, kayaknya lebih enak di rumah ketimbang di restoran dengan makanan asal-asalan karena pesanan banyak banget untuk berbuka puasa. Yang saya nikmati adalah kebersamaan berkumpul lagi dengan teman-teman yang udah lama banget gak ketemu. Ya, cuma moment buka bersama saja lah yang akhirnya bisa mengumpulkan kami, itupun gak semuanya bisa hadir.

 

Saya menikmati tawa dan canda yang menghiasi kebersamaan kami ketika sedang menunggu bedug atau di saat menghabiskan makanan. Ya saya sangat menikmati itu. Itu di satu sisi.

 

Sisi lain, ada rasa gak nyaman ketika harus berkumpul dengan teman-teman lama yang jadwal ketemunya cuma setahun sekali ini. Tentu saja, banyak kabar yang harus ditanyakan tentang kealpaan bertemu sebelum ini. Ini masih gak apa-apa sebenarnya bagi saya. Tapi saat mereka yang normal bertanya soal “pacar” ini yang membuat saya sedikit risih. Mungkin gampang kalau saya Cuma mengatakan saya gak punya pacar. Tapi akhirnya mereka bertanya, “kenapa?” “mau sampai kapan single terus?” nah, saya males jawab pertanyaan ginian. Karena bila saya mau jujur jawaban saya pasti gak kena sama logika “normal” mereka. Kalau mau jawab bohong, tubian pertanyaan tak kunjung henti hingga akhirnya membuat wajah saya yang tadiya ceria perlahan jadi bête. Ini perkara pertama.

 

Perkara kedua. Di umur saya yang masih terbilang muda ini, temen-temen saya ada yang sudah menikah bahkan salah satu temen terdekat di SMA sudah punya anak dua. Saya sih asik-asik aja, saya suka melihat mereka bahagia menceritakan tentang anak-anaknya. Bercerita tentang bagaimana lika-liku menjadi seorang ibu. Saya dengerin. Saya suka.

Atau ketika temen yang baru saja menikah sebulan sebelum puasa masih merona-rona karena kini punya status baru yakni, istri. Kuping ini juga dengerin tentang kisahnya harus mengurus suami menyiapkan bukaan. Ya, namanya juga pengantin baru. Hal-hal kayak gini pasti heboh lah.

Atau yang paling menyedihkan dan paling gak suka saya denger adalah, kisah temen yang pengen juga segera menikah tapi belum diijinkan sama Tuhan. Ya, ini kelompok orang yang paling males saya denger ceritanya. Kenapa juga mesti uring-uringan sampai keterlaluan begitu hanya karena belum menikah. Umur belum lagi seperempat abad. Masih muda, mamen… nyantai aja, dan mari pake slogan Delon, “Indah Pada Waktunya”

Nah itu semua perkara kedua, melihat mereka berkeluarga, punya anak, ngurus suami, dan sibuk mau menikah, entah kenapa disaat acara berbuka bersama itu berlangsung saya merasa saya gak ada di dalamnya. Bukan karena gak diajak ngomong, hanya saja, saya melihat obrolan mereka gak ngena sama saya. Gak cocok untuk saya. Atau belum saatnya pembiacaraan itu cocok untuk saya, termasuk menggalau karena belum punya pendamping.

 

Perkara ketiga, soal aksi saya di dunia maya. Facebook terutama. Kegiatan saya Cuma menulis seperti sekarang ini, dan atau membuat status ekstrem. Temen-temen lama saya itu gak ada yang menghabiskan waktunya kayak saya. Mereka gak menulis. Mereka gak membuat status gila-gilaan. Dan ketika akhirnya dunia maya saya di bawa mereka ke dunia nyata saat kami bertemu. Saya merasa aneh. Okeh. Untuk segala tulisan saya, itu memang saya apa adanya. Tapi untuk status dan berbagai hal sesuka hati yang saya lakukan di FB, oh.. come on.. itu hanya sekedar dunia maya. Gak nyata. Bukan saya. Dan mungkin saya gak seperti kalian yang memperjelas dunia nyata kalian di dunia maya. Jadi saya merasa aneh, kalau hanya sederat kalimat dalam status maka menjadi bahasan untuk bercerita tentang saya. Dan tiba-tiba saya merasa menjadi makhluk aneh diantara orang-orang normal itu. Ya.. saya akui kehidupan mereka normal. Dan saya? saya normal untuk dunia saya. Dunia nyata saya. Bukan dunia maya saya. Memang normalnya dunia saya gak sama dengan normalnya dunia kalian. Tapi inilah saya.

 

Akhirnya, kebersamaan dalam moment berbuka puasa yang satu demi satu saya hadiri hanya makin memperjelas bahwa saya berbeda dari kebanyakan perempuan. Saya hanya sibuk berada di bawah tempurung dunia kecil saya. aah.. tak mengapa. Saya merasa aman di bawah tempurung ini. Tempurung kura-kura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s