Tentang Mantan Tak Dianggap

Mungkin udah saatnya saya gak lagi menutupi toh bukan aib. Gak ada juga yang bakal menganggap itu sebuah aib. Ya.. sebuah pengakuan bahwa akhirnya saya pernah juga menjalin hubungan bertajuk “pacaran”.

Entah apa alasan hingga saya begitu kuat menutupi kenyataan bahwa saya pernah berpacaran dan enggan mengakui kalau kini saya punya mantan. Selain sahabat terdekat, hingga kini saya masih menutupi kalau saya pernah berpacaran. Bila ada seorang teman yang memergoki saya berjalan sama mantan saya itu saya cuman berdalih hanya teman.

Pacar tak dianggap?

Yah.. saat pacaran dulu saya enggan mengakui kalau akhirnya saya menyerah pada suatu hubungan. Dimana selama ini menjadi single begitu saya sanjung puja puji kan sebagai kebanggan tertinggi saya. Maka dari itu, hubungan saya sekuat mungkin saya tutupi. Berkelit dan bersilat lidah (kayak lagu dangdut). Saat telah menjadi mantan pun saya sewot kalau sahabat saya ledekin saya karena udah punya mantan. Ya, saya gak sudi bermantankan dengan siapapun. Terlalu kekanakan sekali ya?

Padahal harusnya saya berterima kasih teramat banyak kepada pacar pertama sekaligus mantan saya saat ini tersebut, karena berkat dia, berkat nasihat dan segala ucapan dia untuk saya, saya sedikit menyadari bahwa sendiri memang mungkin indah, tapi gak selamanya juga hidup harus sendiri. Nah, untuk orang yang telah berhasil membuat saya melihat satu keping bagian kehidupan ini harusnya saya mengucapkan terima kasih padanya, sosok yang telah mengenalkan pada saya dunia yang gak pernah sudi saya intip, bukan malah gak mau mengakui hadirnya.

Karena saya telah berjanji untuk berubah dan menjadi lebih dewasa, maka sudah sepantasnya saya kini mengakui kalau saya pernah juga berpacaran kala ada teman yang bertanya tentang sosoknya. Hal ini sekaligus menyatakan kalau kini dia adalah mantan saya. Bukan mantan absurd dari hubungan absurd saya dengan seorang teman yang sama gak warasnya. Hehehehe….

Ya.. mantan saya sesungguhnya. Hubungan sesungguhnya walau sebenarnya bisa dibilang cuman intermezzo. Karena umur hubungan kami lebih parah dari istilah “seumur jagung”. Yaah.. semua salah ada pada saya. Kini saya cuman mau melihat hikmah. Hikmah bertemu dengan orang yang telah merubah pikiran saya. Juga agar untuk menjalin hubungan harusnya bukan karena berbagai syarat dan alasan penuh logika dan keuntungan. Akan tetapi untuk menjalin hubungan, cukup pergunakan hati. Bila hati tak siap, maka jangan jadikan berbagai alasan penuh logika untuk berhubungan. Akan ada hati yang sakit dan jiwa yang menyesal.

Beuh..

Kayak bukan saya ya?

Oh iya, saya emang baru kejedot pintu kamar mandi tadi saat mau bershower😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s