Kata “Maaf” Luar Biasa ya?

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saat saya mempercayai kekuatan memberi maaf dan meminta maaf adalah saat saya memberi maaf sekaligus meminta maaf atas semua salah dan sakit hati pada kedua sahabat saya. Awal tahun ini kalau gak salah kejadian itu terjadi, setelah berbulan-bulan memendam rasa amarah dan sakit hati, akhirnya maaf terucap diantara kami dan akhirnya kami baikan dan sahabatan lagi. Aaah.. bukan hanya cinta pada pacar saja yang mengalami pasang surut, cinta pada sahabat-pun juga begitu adanya. Tau apa yang terjadi setelah kami saling meminta maaf dan memberi maaf?

Hidup memang jadi lebih damai dan senyum jadi mudah terkembang, khusus untuk saya, migraine menghilang 😀

 

Malam ini untuk kedua kalinya, saya melihat lagi senyum terkembang dan wajah tenang damai penuh kebahagian karena sebuah kata bernama “maaf”.

 

Adik bungsu Ibu saya yang saya panggil Tante sedang berkunjung ke Banda Aceh dan nginap di rumah saya, selama ini dia berjuang hidup bersama dengan anaknya sebagai single parent di negara tetangga, Malaysia. Adik bungsu Ibu saya ini punya temperamen yang aduhai sekali. Bayangkan aja, dari lima saudara kandungnya yang masih hidup, cuman sama Ibu saya-lah dia bisa akur.

Merupakan kisah lama saat dia berhenti ngomong sama satu-satunya abang kandungnya yang tersisa, dan cerita baru saat dia berantem sama kakak tertuanya. Ibu saya berkali-kali menasihatinya untuk kembali berdamai dengan saudara-saudaranya, tapi sikap keras kepalanya bener-bener luar biasa.

Bunda saya, adik Ibu saya dan kakak Tante saya, bilang kalau saat ini kondisi tante saya itu benar-benar labil, ya bisa jadi karena dia harus menjadi janda ditinggal mati di usianya yang masih terbilang muda. Kelabilannya juga mungkin karena tingkat stressnya dia yang harus menjadi single parent bagi kedua anaknya di negeri orang dan masih linglung bagaimana caranya melanjutkan hidup dengan keringat sendiri. Wajarlah, karena selama suaminya hidup, tante saya sangat berkecukupan materi dan semuanya itu didapat dari suaminya secara utuh.

 

Sensitif. Itu kata yang tepat untuk tante saya. Sedikit saja menyinggung hatinya maka langsung ia memutuskan untuk gak mau saudaraan lagi. Kekanakan sekali, bukan? padahal setelah saya usut lebih lanjut, tante saya hanya salah paham, atau…hemmmm… hanya berpersepsi terlalu berlebihan. Ya.. saya geleng-geleng kepala sendiri melihat dia dengan tingkahnya yang kekanakan.

 

Malam ini, saya curiga tadi pas mandi dia kejedot bak. Dia pergi mengunjungi rumah Mak Ani (kakak tertua) dan ke rumah Bunda (adik Ibu saya dan juga kakak tante saya) juga ke rumah Om (abangnya juga adik ibu saya) guna meminta maaf atas segala salah yang telah diperbuatnya. Ajaib. Kami semua heran dia mau melakukan hal itu, padahal baru kemarin dia bilang dia gak bakal mau minta maaf karena gak ngerasa salah.

 

Ya.. tante saya meminta maaf, sepulangnya dari aksi minta maaf yang telat itu (karena pas lebaran gak mau minta maaf) saya melihat wajahnya begitu sumringah. Ya.. dia tampak bahagia dan saya yakin dia besok bisa kembali ke Malaysia dengan tenang dan hati yang damai.

 

 

Aaah.. benar memang, sebuah kata “maaf” memberi efek yang sangat luar biasa. Meminta maaf dan memberi maaf efeknya balik ke diri sendiri. Membuat jiwa tenang, hidup bahagia dan hati yang tenteram.

 

Aah.. saya terharu lihat tante saya. Hatinya yang keras bisa berubah. Hemm… kayaknya tadi dia beneran kejedot bak deh 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s