Kalau Harus Mengulangi Dari Nol Lagi

Saya pernah bercita-cita menjadi pengacara. Kuliah di Fakultas Hukum adalah jalannya. Saya gagal masuk ke jurusan tersebut dan malah terlempar ke Jurusan Akuntansi.

 

Tahun kedua kuliah, saat teman-teman berusaha kembali mencoba peruntungan dengan kembali ikutan ujian saringan masuk mahasiswa demi mendapatkan jurusan favoritnya, saya malah sibuk nyusun KRS semester depan di jurusan yang telah dua semester saya jalani. Bukannya cita-cita saya redup seketika. Saya masih pengen jadi pengacara dulunya, tapi lantas jurusan Akuntansi juga lumayan menarik minat saya. Lagian… mengikuti proses ribet yang sama untuk kedua kalinya bukan gaya saya, teman.

 

Tau kan, gimana ribetnya mau masuk kuliah itu? beuh… diperlukan banyak uang yang keluar lagi, keringat yang keluar lagi, pegel lagi, capek lagi, dan banyak antrian demi mengikuti semua prosedurnya. Beuh..

Katakan saya pemalas. Saya akui. Saya malas mengikuti hal yang sama dua kali. Ngulang dari titik nol lagi.

 

Mari kita bahas tentang titik nol.

 

Maukah, anda membaca tulisan seorang teman saya tentang Kembali ke Titik Nol?

Baguslah kalau anda baca, karena saya malas nulis ULANG.

 

Membaca tulisan itu dulunya gak pernah mengena di hati saya. Saya gak pernah memiliki suatu hubungan dengan seorang pria dalam ikatan asmara, apalagi yang harus berakhir setelah bertahun-tahun dijalani. Lalu karena hidup gak berhenti, maka tetap aja harus kembali menjalani lagi hubungan dengan orang lain dan kembali ke titik nol.

 

Saat membaca tulisan itu, saya cuman mikir, “beuh.. mungkin sama rasanya kayak saya malas ikutan SPMB lagi karena harus ngulang dari awal”

 

Lalu seorang lelaki berkisah, tentang betapa jemunya ia akan sebuah hubungan yang lagi-lagi kandas. Benak saya melayang ke tulisan teman saya itu. Mungkin inilah yang dirasakannya.

 

Pertama, mari kita ucapkan selamat kepada perempuan karena setidaknya resiko mengulang kembali ke titik nol masih kurang perjuangannya ketimbang lelaki.

Memang iya, sama-sama melelahkan mengulang kembali menjalin hubungan asmara. Tapi setidaknya perempuan melewatkan satu fase. Fase PDKT.

 

Pada fase PDKT, jelas yang lebih usaha adalah lelaki. Lelaki harus cari muka, berbuat baik, bersikap manis, meluluhkan hati perempuan, atau kalau saya singkat aja dan makai kata-kata teman saya, ngemis-ngemis dan bersujud lagi sama perempuan.

Yaa.. fase itu lelaki yang masih banyak memegang kendali. Dan rasa-rasanya saya mampu merasakan bagaimana lelah dan jemunya kalau harus kembali mengulangi hal yang sama. Apalagi setelah hubungan yang baru saja kandas bukan hubungan yang kedua atau ketiga, melainkan sudah menyampai angka belasan. Waah… mantannya banyak, ya? Hehehe

 

Menurut tulisan teman saya, lebih baik kembali ke titik nol untuk mendapatkan pasangan yang memang terbaik.

Menurut teman saya yang sudah jemu mengulang, lebih baik mendaurulang hubungan yang masih mungkin diperbaiki. Jadi, gak harus mulai dari nol lagi yang mana harus nyembah-nyembah lagi si perempuan.

Jika kamu lelaki, mana yang lebih baik di antara dua pendapat teman saya?
Jika kamu perempuan, boleh juga ngasih pendapat.

 

 

eniwei… lapperrrrr

One thought on “Kalau Harus Mengulangi Dari Nol Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s