7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Kemarin malam, saya menonton film yang ditayangin di salah satu televisi swasta. Film yang berhasil meraih penghargaan apa gitu, saya lupa. Judulnya. 7 hati 7 cinta 7 wanita.

Tokoh dari ketujuh perempuan yang berkisah saya tertarik pada sosok tokoh dr. Kartini. Perempuan yang skeptic akan cinta, enggan menikah dan selalu mengganggap pria biang keladi yang membuat wanita susah. Beberapa cara pikir dr. Kartini (wanita pertama) bisa dibilang “saya banget”.

Layaknya dr. Kartini yang gak percaya kalau bakal ada pria yang tulus mencintai seorang wanita juga bertanggung jawab, saya juga pernah berpikir begitu. Okeh. PERNAH. Not now. Yeaah.. GAK TERLALU lagi SEKARANG.

Ketika dr. Kartini dihadapkan oleh sosok Bu Lastri (wanita kedua) dan suaminya yang penyayang, dr. Kartini tercenung dan akhirnya menyadari, bahwa mungkin ada juga pria yang tulus kasih mencintai cintanya dan bertanggung jawab kepada istrinya. Saya juga kagum loh sama sosok Pak Hadi itu. Lalu akhirnya, saya dan dr. Kartini harus dibuat kecewa kalau ternyata Pak Hadi punya istri lain bernama Ningsih (saya gak tau apakah Ningsih masuk dalam itungan tujuh wanita) dan Pak Hadi memiliki karakter yang berlawanan kepada masing-masing istrinya.

Kisah Bu Lili (wanita keempat) mengingatkan kisah cinta salah satu teman saya dengan pacarnya ketika mereka masih SMA (saya juga masih SMA saat itu). Bu Lili mendapatkan suami yang punya kelainan jiwa dan kelainan nafsu seksual. Saya lupa apa sebutan untuk seseorang yang mempunyai nafsu seksual berupa kekerasan. Aah.. ini bahasan yang berat kalau saya bahas. Saya hanyalah perempuan dengan pengetahuan pas-pasan.

Ada Yanti (perempuan kelima), seorang PSK yang gokil banget. Tapi menurut saya, dalam urusan mendapatkan cinta laki-laki dengan tulus dialah pemenangnya. Yanti didiagnosa menderita kanker mulut rahim. Dan.. ada kata-katanya yang saya suka “ini nih..(sambil menunjuk buah dada dan tubuhnya yang seksi) merupakan kutukan bagi gue” kira-kira gitulah kalimatnya. Kalau kamu tanya kenapa saya suka, wew… mungkin sebagai pembenaran atau cara saya mensyukuri kekurangan saya. Saya mikir gini, “bah. Ternyata badan saya yang rata dimana-mana ini kadang merupakan kelebihan juga”. Iya sih, saya tau, banyak cerita dimana perempuan kadang mengutuk ukuran dadanya yang terlalu besar yang akhirnya hanya mengundang nafsu birahi lelaki. eitss.. saya ngomong kejauhan nih. Udah ajalah.

Perempuan ke… *itung dulu* . Ratna, perempuan keenam. Perempuan paling tabah dan menjalani kehidupannya. Menerima kodrat dan takdir yang telah ditetapkan Tuhan padanya. Tapi satu, dia tetep gak bisa menerima kalau dia dimadu oleh suaminya. Miris, mamen. Kalimat yang dia gunakan ketika berantem sama suaminya juga mantap. Sayang saya gak hapal. Tapi saya suka adegan itu.

Adik Ratna, Rara (perempuan ketujuh). Masih kelas 2 SMP udah hamil. Gilaaak.. tapi dia lucu juga. Pas dia ke dokter kandungan (dr. Kartini) dan sedang di ruang tunggu pasien, dia, Lastri dan Yanti membuat percakapan yang sungguh lucu. Ini adegan favorite saya juga.😀

Terakhir ada dr. Rohana, ini nih yang saya bingung, kalo ditotalin semua perempuannya ada 8. Makanya saya bingung apakah dr. Rohana atau malah Bu Ningsih yang termasuk dalam tujuh wanita. Tapi saya lebih berat ke Ningsih yang memang punya masalah dengan rumah tangganya ketimbang dr. Rohana yang gak punya masalah sama cinta disini. Masalah dr. Rohana hanya bersaing sama dr. Kartini dalam urusan kerjaan.

Di akhir cerita, ayah dokter Rohana adalah cinta pertama dr. Kartini. Bisa dibilang karena patah hati sama ayah dr. Rohana-lah hingga kini dr. Kartini enggan menikah hingga sekarang. Tapi… ada cinta lain untuk dr. Kartini. dr. Anton memberikan cinta tulusnya untuk dr. kartini hingga akhirnya dokter Kartini luluh juga. Menurut saya, dr. kartini pemenang cinta kedua setelah Yanti.

Cerita-cerita seperti ini membuat saya mau gak mau harus lebih bijak mengenai apa yang dinamakan cinta dan menikah. Tentu saya gak mau seperti dr. Kartini yang harus melewati banyak masa untuk percaya pada cinta. Memang soal cinta, banyak tanya saya yang belum bisa saya temukan jawabannya. Tapi kini, saya punya cara bagaimana menemukan jawaban itu satu demi satu. Yaitu dengan, menghadapi cinta itu sendiri. Bertarung untuk dikalahkan atau mengalahkan. Soal akhirnya, bila saya bahagia dengan cinta katakan itu sebagai hadiah. Bila saya patah hati, itu namanya resiko dan saya yakin saya gak bakal mati hanya karena patah hati.

Ps: Saat pikiran saya lagi waras. Saya hanya berdoa pikiran ini bakal awet. Gak cepet basi kayak lontong lebaran😀

4 thoughts on “7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

  1. gak sempat nonton nih ntan, jadi gak bisa komentar,😀😀

    sadokis-masokis itu intan, kelainan seks dimana pelaku seksnya merasa nyaman ketika ia menyakiti atau disakiti lawannya😀 *berat ma men*, he

    anyhow, jadi cinta menurutmu itu apa intan? :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s