Agama, Penyelamat Hidup

Percaya gak sih kalau agama itu bener-bener bisa menjadi penyelamat hidup?

Saya percaya. Amat sangat.

 

Saya ini sering dinilai tak biasa bagi sebagian orang. Pikiran saya, gaya hidup saya, dan tujuan hidup saya. Terkadang pikiran tak lazim saya malah mengarah ekstrim.

 

Kemarin saya nulis postingan ini. Dan tulisan itu juga saya posting di ngerumpi hingga mendapat tanggapan. Di akhir tulisan, saya mengutarakan suatu pikiran yang pernah ada di benak saya agar bagaimana caranya mempunyai anak tanpa “menggunakan” lelaki di dalamnya.

Hem… vulgarkah bahasa saya? Atau terlalu dewasa? Gak cocok saya bahas ginian?

Well, udah saya bilang kan, pikiran saya terkadang ekstrim.

 

Pengen punya anak tanpa menikah ataupun tanpa menggunakan jasa lelaki, pernah menjadi angan saya.

Membunuh seseorang yang teramat sangat saya benci pernah menjadi ambisi saya.

Ingin membunuh diri sendiri juga sempat terlintas di benak saya kala saya begitu benci sama dunia.

Melanjutkan kuliah ke Belanda sekaligus menikah dengan seorang wanita pernah menjadi cita-cita saya membuat dunia geger.

 

Tapi semua itu hanya berupa angan yang secara sadar saya gak pernah mau melakukannya dengan sungguh-sungguh. Semua itu hanya semacam bentuk rasa kesal yang kemudian diutarakan lisan saat hati telah tak mampu membendung amarah.

Hanya sebuah pelampiasan.

 

Sejatinya, ada sesuatu yang selalu membuat saya tetap berada di jalur yang benar. Jalur yang aman. Sesuatu itu saya sebut dengan AGAMA.

 

Agama mengajarkan saya hal yang baik dan salah. Mengajarkan saya tentang arti sebuah dosa. Dan memberitahu saya ada resiko atas semua dosa.

 

Bukannya saya terbebas dari dosa kecil. Tapi itulah, untuk membuat dosa baru bertema dosa besar saya amat sangat takut. Takut ama neraka.

 

Karena dilarang sama agama makanya saya selalu menahan diri gak ngasih racun tikus ke sosok yang pernah amat sangat saya benci selama bertahun-tahun.

Karena bunuh diri itu berdosa dan saya takut masuk neraka maka setiap kali saya depresi saya gak pernah pengen menyayat nadi saya. Lagian setau saya, bunuh diri itu apapun caranya pasti menyakitkan. Dan saya benci sesuatu yang dapat menyakitkan tubuh saya.

Melakukan inseminasi buatan pun merupakan dosa, makanya saya cuman ngomong doank pengen melakukan itu. Lagian uang darimana saya beli sperma dan melakukan inseminasi ituh?

 

Terus apa lagi?

Hemmm menikahi wanita dan menetap di Belanda? Ini asli gaya-gayaannya saya ajah. Abis heran deh, sampai sekarang masih aja ada orang yang menerka-nerka saya ini lesbi hanya karena saya gak punya pacar.

 

Yaah.. kalo lagi normal, asli saya gak pernah sama sekali pengen ngelakuin dosa. Tapi kalau galau menyergap dan kacau tersibak lantas pikiran-pikiran jelek menari-nari di benak maka saya selalu punya satu penghalang. Otak saya selalu mengingatkan kalau saya punya agama yang menuntun saya ke jalan yang benar. Agama membuat saya hanya sebatas mimpinya mimpi (gak pengen diwujudkan) mengingat semua pikiran-pikiran ekstrim saya. Agama yang saya anut hingga kini mampu menyelamatkan saya dari tindakan nyeleneh.

 

Lah.. kalau sekarang saya masih iseng bertingkah nyeleneh toh saya gak pernah bernar-benar nyeleneh J

 

Seseorang pernah mengomentari saya, “Ya. Kamu sekarang udah lebih dewasa keliatannya”

 

Hem..

Ya. Saya gak pernah lagi punya hasrat membunuh orang sebenci apapun saya padanya. Dan saya sekarang sudah lebih mampu mengatasi masalah-masalah saya dengan lebih kalem. Untuk urusan keinginan punya anak, sekarang telah dibarengi dengan keinginan menikah. Dengan lelaki tentu saja. Masalahnya kini cuman satu, butuh waktu menyesuaikan diri dari pikiran yang dulunya tak ingin menikah hingga punya rencana menikah. Mungkin 5 tahun lagi.

 

Jadi, agama memang penyelamat hidup. Bahkan hidup setelah mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s