Pun Bukan Jodoh, Saya Gak Mau Mati

“Anggap aja gak jodoh” jawab saya ketika teman saya berusaha mengilustrasikan hal buruk yang akan saya alami soal hubungan saya dengan seorang pria yang belum jelas hubungan kami ini apa.

“Andai aja emang semudah itu” balasnya lagi. “Takutnya entar kamu akan ngerasa nyesek. Bener-bener nyesek”. Ucapnya kemudian

 

Waah.. mungkin karena saya gak pernah merasa kecewa dalam soal menyukai seseorang. Okeh. Menyukai dalam arti yang lebih dalam ya, mungkin menyukai untuk akhirnya dijatuhi hati dan berharap seseorang itu akan jadi jodohnya saya. Ya. Saya gak pernah merasa kecewa terhadap seseorang dalam konteks seperti yang telah saya sebutkan tadi hingga saya dengan entengnya bilang “anggap aja gak jodoh”

 

Bila kita menemukan seseorang yang pas banget  ama kita, mungkin kita akan berharap dia itu akan jadi jodohnya kita dalam menyempurnakan puzzle hidup kita yang bercecer. Saya pun juga berharap demikian adanya. Menemukan orang yang pas dan ngena di hati saya untuk mendampingi hidup saya. (Iya. Serius. Saya gak becanda nulis ginian). Lalu, saat kita nemuin orang yang pas itu eh, ternyata dia pergi dari kita atas sebuah kejadian berjudul “takdir”. Ternyata takdirnya kita gak bersama orang yang kita harapkan. Kalau mau bersikap tabah kita pasti bilang, “anggap aja bukan jodoh”. Okeh. Mulut bisa ngomong gitu tapi hati?

 

Yakin gak, hati kita gak menjerit-jerit dan terasa sesak begitu tau orang yang kita suka malah berlalu dari kita dan merajut takdir dengan orang lain? Yakin kamu bakal kuat?

 

Saya yakin saya akan kuat. Tapi itu dulu, tepat sebelum teman saya bilang “andai aja emang semudah itu”. Sekarang? pun saya belum punya pengalaman pahit soal menerima “bukan jodohnya saya” saya mulai merasa sedikit was. Saya mulai berpikir, ya mungkin memang tak semudah itu. Pasti akan ada sesak di dada yang begitu buncah. Begitu hebat. Begitu jumawa. Tapi lantas bisa apa kita?

 

Jodoh di tangan Tuhan. Sudah Tuhan yang paling tau apa yang paling baik untuk kita. Kalimat tak terbantahkan, kan?

Jadi, kalaupun suatu ketika kelak saya merasakan perihnya hati menerima orang yang saya suka bukan menjadi jodoh saya, mungkin iya saya bakal nelangsa dan hidup bagaikan air di daun talas (maksudnya?) eh.. hidup tanpa semangat dan makan pangsit malah berasa obat nyamuk. Tapi saya janjikan satu hal, seperih apapun, saya janji saya gak bakal mati karena itu.

 

Okeh. Mungkin ada kemungkinan saya lagi patah hati dan mencari pangsit untuk menghibur diri dan dalam perjalanan saya ketabrak lalu mati. Tapi jelas, ini gak bisa dikatakan mati karena patah hati, bukan?

 

Baiklah. Semoga paragraf terakhir itu gak beneran terjadi di hidup saya. Mari sama-sama berdoa semoga saya dijauhkan dari bahaya seperti itu. Amiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s