Menikah: Saat Beban Perempuan Bertambah

Ada hal yang mengusik saya perihal kehidupan pernikahan. Well, jangan sinis dulu dengan topic ini, tolong baca dulu.

 

Dalam tulisan ini saya ingin membuat dua tokoh fiktif. Satu perempuan satu lelaki. Perempuan bernama Janeth, yang lelaki bernama Umar. Janeth dan Umar memutuskan menikah pada tanggal 8 September 2008. Saat ini mereka telah mempunyai seorang putra dan seorang putri. Lagi lucu-lucunya lah anak mereka.

 

Sebelum menikah, Janeth hidup mandiri terpisah dari orangtuanya begitu pula dengan Umar. Setelah menikah Janeth dan Umar tinggal serumah (ya iyalah). Sebelum menikah mereka telah sama-sama memiliki pekerjaan. Setelah menikah mereka masih dengan pekerjaannya masing-masing

 

Permasalahannya disini. Sebelum menikah mereka yang tinggal sendiri otomatis mengurus segala kebutuhan pribadi mereka sendiri. Kayak lagunya Caca Handika. Masak…masak sendiri… Nyuci…nyuci sendiri.

Iklan: Meggy Z masih hidup atau gak sih? Mamak saya pernah tanya sama saya. Saya nanya balik sama mamak saya. Intinya kami sama2 gak tau.

 

Setelah menikah keadaan jadi berubah. Umar sebagai kepala rumah tangga dengan karir cemerlang, Janeth sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita karir di luar rumah.

Umar tak lagi mengurus kebutuhan pribadinya sendiri. Ada Janeth yang akan mengurus soal baju kantornya sampai kaus kakinya yang berwarna abu-abu. Janeth selain mengurus kebutuhannya sendiri seperti ketika masih lajang juga ikut mengurus kebutuhan Umar. Janeth juga masih bekerja di luar.

 

Saya melihat ketimpangan disini. Pernikahan, hanya menguntungkan pria. Lihat saja keadaan Umar, kondisinya jauh lebih enak ketimbang saat dia melajang. Sekarang dia diurusi. Lihat Janeth, pekerjaannya bertambah sekarang, dia harus mengurus Umar, mengurus anak-anak, mengurus rumah tangga dan mengurus karirnya. Sebelum menikah pekerjaannya tak seberat ini.

 

Mungkin sebenarnya pernikahan itu adalah keinginan terbesar perempuan tetapi keuntungan terbesar bagi lelaki.

 

Kalau ada yang mau berpendapat bahwa perempuan tak seharusnya bekerja di luar rumah dan lebih baik mengurus rumah tangga saja, kenapa juga tempo hari saya ditolak saat saya melamar seorang pria hanya karena saya belum mendapatkan pekerjaan?

 

Jadi gini. Perempuan dan lelaki setuju kalau perempuan bekerja merintis karir di luar rumah.

Akan tetapi, perempuan itu kewajibannya adalah mengurus rumah tangga dengan baik dan benar.

Maka, perempuan bekerja di luar rumah dan mengurus rumah tangga.

Kesimpulannya, dengan menikah beban perempuan jadi lebih berat.

 

Intinya saya nulis gini?

Aah.. lelaki, seminggu dua kali nyuci piring, setiap minggu ke pasar, hari Jumat masak, hari Rabu nyuci baju dan kalo malam ganti popok anak, saya rasa bukan perkerjaan yang berat kok dilakukan atas nama CINTA. Ya, demi CINTA. DEMI CINTA. Sekali lagi, DEMI CINTA.

Kenapa diulang-ulang?
Suka hati saya donk. Tulisan saya ini.

 

Ada yang mau memberikan pendapat? #pake eyeliner

 

Note: Saya tau, dengan nulis ginian kesempatan saya untuk dipersunting lelaki waras makin kecil.

One thought on “Menikah: Saat Beban Perempuan Bertambah

  1. Sya setuju…… Kenapa perempuan justru malah terbebani setelah menikah? Ini tiidak adil. Sama sekali tidak adilll!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s