Kalau kamu Walikota, Calon Walikota, Anak Walikota, Sepupu Walikota atau Tetangga Walikota Banda Aceh tolong baca ini

Tiiit..tiit….tiit…
Suara apa itu? hayoo tebak?

Happaa? Suara semangka dibelah? Jangan ngaco kamu ya!
tebak yang bener!
Haaa? Suara anjing yang di bawah jembatan lambaro? Sarap kamu ya, nebak gituan.

*Okeh, intro becanda gak nyambung itu memang gak bakal kamu ngerti. Tapi saya dan teman saya, Leni familiar sama kisah semangka dan anjing tersebut.

Sebenernya, Gan itu suara klakson. Tadi pas jaman makan siang, Leni jemput saya untuk makan siang ala gembel sedang kere sekali. Di lampu merah simpang lima kami berenti. Kenapa? Karena lampunya sedang merah. Kalau lampunya merah pemakai kendaraan harus berhenti. kalau lampunya ijo berarti tanda untuk jalan. Kalau lampunya berwarna kuning tandanya disuruh jaga-jaga/hati-hati. kalau lampunya berwarna hitam, itu mati lampu, Gan. Nah.. tau kan arti dari warna lampunya udah?

Di Simpang Lima, lampu lalu lintasnya udah keren semenjak tahun lalu (kalau gak salah). Lampunya ada angkanya loh. Keren banget kan? Angka itu menunjukkan berapa lama lagi warna lampu akan berubah.

Tadi siang itu, saat saya yang dibonceng sama temen saya berhenti di lampu merah. Saya mendengar ada orang yang klakson. Mungkin ada 3-4 orang yang adu siapa yang punya suara klakson paling mantap. Saya liat teman saya gak melajukan motornya. Saya liat lampu lalu lintas menunjukkan angka 5. Itu berarti 5 detik lagi lampu akan berubah warna dari merah menjadi hijau. Masih 5 detik tapi para pengendara udah kesetanan mengklakson kendaraan yang berada paling depan pertanda menyuruh mereka segera melajukan kendaraannya.

Silahkan sambung cerita ini sesuai pendapat kamu masing-masing.

Saya makan siang ala gembel dengan makan bakso goreng di Taman Beurawe. Okeh. Ini memang masih tanggal 16 tapi tolong jangan heran kalau saya bilang saya lagi kere dengan teramat sangat makanya saya makan ala gembel.

Saya dan teman saya duduk-duduk di Taman Beurawe. Taman yang udah hancur lebur tak terurus dan tak terawat itu. Kami ngobrol ini-itu sembari menghabiskan bakso goreng. Setelah kurang dari 1 jam duduk disitu datang seorang perempuan yang kira-kira seusia kami menawarkan minuman kepada kami dengan bertanya “mau pesan apa, kak?”. Kami yang memang udah punya minuman menjawab kami gak memesan apa-apa.

10 menit berlalu datang seorang perempuan lain lagi. Lebih tua dengan tampang judes. Pasti ditawari minum lagi nih pikir kami.

Kakak berwajah judes: “mau pesan apa dek?”
Leni: “gak pesan apa-apa”
Kakak berwajah judes: “kalau gak pesan apa-apa gak bisa duduk disini. Kami disini sewa”
Saya: “ya udah kami pergi aja”
Kakak: “ya udah pergi aja, biar orang lain bisa duduk disini”

cermati baik-baik percakapan tersebut saudara.

Itu taman kota. Sejak kapan taman kota yang dulunya gratis berubah menjadi berbayar?
sejak kapan taman kota berbayar tak terawatt?
sejak kapan penjual warung bisa meng-klaim bahwa dia menyewa taman kota?
apa bentar lagi penjual Burger pinggir jalan akan melarang orang-orang berdiri di trotoar dengan mengatakan “saya menyewa trotoar ini”

Aaah… kalian sambung aja cerita ini sesuai dengan akal sehat kalian masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s