Dasar Anjing!

Sering sekali kita mendengar seseorang mengumpat dengan melafalkan nama-nama binatang. Contoh barang: Dasar anjing! Babi kau! Anjing kau!
Yang mana umpatan-umpatan tersebut ditujukan kepada makhluk hidup bergenre manusia. Miris sekali, teman. Harusnya kita memanggil anjing untuk anjing. Menyebut babi untuk babi. Bukan mengumpat manusia dengan “anjing”.

Hari Minggu kemarin seperti biasa, saya habiskan hari saya bersama dengan teman-teman. Sabtu-Minggu adalah moment dimana saya harus merasa muda kembali dengan melakukan aktivitas guna membuat saya tertawa dan pikiran saya tenang.

Hari Minggu kemarin, saya dan ketiga teman saya mengakhiri hari dengan memakan es krim. Pun sedang batuk feat pilek saya pengen es krim. Sudah sewindu rasanya saya tak makan es krim. Seperti biasa, kalau saya bersama dengan teman-teman saya yang ini kami biasanya suka nongkrong ala gembel. Maksudnya kami bisa duduk dimana aja hanya untuk tertawa sambil meikmati es krim atau makanan lainnya. Kami bisa duduk di lapangan bola, di taman kampus, di kios minyak, di emperan toko orang, di halte, di taman beurawe atau dimana-pun yang kalau mau duduk gak membutuhkan biaya. Ya… kami biasa seperti ini.

Setelah membeli es krim yang harganya bisa untuk ngisi 2 liter bensin+sekali parkir kami mulai mencari tempat nongkrong gratisan. Terpikir untuk duduk-duduk di tepi sungai di depan kampus Politeknik. Ketiga teman saya tak tau tempatnya. Saya tau, tapi saya lupa jalannya kesana kalau melewati jembatan baru Pango tembus Lambaro itu. saya kan gak bisa bawa motor, jadi saya gak hapal jalan.

Tersebutlah teman saya yang kita sebut saja Mawar, ini orang emang aneh dengan caranya sendiri. Dia suka bereksperimen. Dia suka sesuka hati menentukan jalan. Saya sebagai asistennya (baca: orang yang selalu ditebengi sama dia) selalu ikut mendukungnya dalam suka maupun duka. Kemarin itu saya korban dukanya.

Demi mencari jalan masuk ke Politeknik yang saya sendiri lupa, teman saya yang gak kenal sama benda bernama GPS asal aja mengemudikan Shogun merahnya kesebuah lorong. Bodohnya saya pikir mungkin juga ini lorong menuju kampus Politeknik soalnya jalannya ampir-ampir sama. Baru aja kami masuk ke lorong tersebut saya seperti mendengar suara-suara, saya balik badan saya dan melihat kedua teman saya tak ikut masuk ke lorong tersebut. Saya dengan muka cantik plus melongo sedikit sedang menganalisa kenapa mereka tak ikut kami. Tak lama lalu dua teman saya terlihat panic. Sebut saja namanya Melati, sibuk mengklakson motornya pertanda memanggil kami. Saya lalu menyuruh Mawar berhenti dan sibuk menoleh kembali ke belakang. Begitu saya menoleh ke belakang saya meilhat teman saya yang satunya lagi, sebut saja namanya Semuanya Indah (bentar, saya akan menjelaskan kenapa nama teman saya yang ketiga saya sebut Semuanya Indah. Simak saja nama pertama, Mawar, diikuti Melati lalu ketiga Semuanya Indah. Ini kan lirik lagu iya kan? Mawar, melati… semuanya indah…)
Okeh balik lagi ke cerita. Si Semuanya Indah udah gabuk menyeru-nyerukan tangannya memangil saya dan Mawar. Tapi belum sempat kami mencerna maksud panggilan tersebut secara tiba-tiba datanglah seekor, diikuti ekor kedua, ketiga, lalu 5 ekor anjing yang menyalak dan siap menrekam kami. Beneran. 5 ekor anjing menyalak di depan mata kami. Jaraknya cuman semester. Kami yang masih diatas motor udah ketakutan. Saya ingin turun dari motor dan bersiap untuk lari, tapi Mawar mengingatkan untuk jangan lari karena nantinya akan dikejar. Lalu teman saya yang menasihati saya ini malah berpikir untuk melemapar motornya begitu saja dan dia ingin segera lari dari sana. Nah loh? Ini dia larang saya lari tapi dia juga pengen lari. Panic. Itu intinya. Kami berdua panic. Dan kami berdua gak punya cita-cita mati konyol dikeroyok 5 anjing yang tak seberapamana itu.

Saya mendengar seruan, “jangan lari, dek. Pelan-pelan aja”
Saya noleh ke belakang. Saya liat ada seorang abang-abang, rupanya saya tak tau entah ganteng entah enggak, jaraknya lumayan jauh dan saya gak bisa liat dengan jelas. Saya juga gak sedang menimbang-nimbang dia mirip Ashraf Sinclair ataukah Miller, karena sumpe.. saya sedang panic sama anjing dan gak peduli ama tampang tu abang-abang yang namanya aja saya gak tau. Saya pikir abang ini akan menghampiri kami dan langsung menjadi pahlawan sore kami dalam membebaskan saya dan Mawar dari keroyokan anjing. Tapi apa daya, beberapa detik berlalu saya liat abang itu gak makin mendekat dengan kami. Dia hanya berdiri tak jauh dari ujung lorong itu. dia rupanya tak berniat jadi pahlawan tapi dia hanya ingin jadi supporter kami yang berdiri paling depan. Mari kita beri tepuk tangan kepada abang tersebut.

Menghadapi 5 ekor anjing yang tak berhenti menyalak di depan muka kami, saya jadi menyesal kenapa saya tak pernah mau belajar doa cara menghindar dari ancaman anjing. Beneran loh, doanya ada. Mawar yang ingin membaca ayat kursi malah lebih panic lagi. Dia terus menerus hanya bisa mengulang-ngulang basmallah tanpa bisa melanjutkannya ke ayat kursi. Sedangkan saya, terus mengulang-ngulang menyebut tahlil, tahmid, dan takbir. Kami panic, mamen.

Lalu, saya berseru kepada teman saya. “pelan-pelan putar motornya” saya terus mengulangi kata “pelan-pelan” sembari teman saya memutar haluan setang motornya kembali kea rah jalan raya. Setelah sukses berputar 180 derajat, saya noleh ke belakang, saya msih takut anjing-anjing tersebut gak rela menyia-nyiakan snack sore mereka dan menerkam kami dari belakang. Begitu saya noleh, anjing-anjing tersebut tak lagi menyalak dan hanya menatap kepergian kami. Mawar melajukan motornya dengan tenang ke mulut lorong dan akhirnya kami selamat dan hidup bahagia selamanya.

Ternyata, Melati dan Semuanya Indah berhenti di ujung lorong karena ada seorang Kakak Baik Hati Berkacamata yang buru-buru menghentikan mereka di mulut lorong. Kakak tersebut member peringatan,”Jangan masuk ke sana, Dek. Banyak anjing. Kemarin ada orang yang digigit betisnya sampe robek”
Hidiiih… merinding kami…
Maka dari itu, Melati dan Semuanya Indah berhenti di mulut lorong dan sibuk menghentikan kami. Para penonton yang melihat tingkah saya dan Mawar yang konyol sibuk bertanya “Mu ngapain dek kesana” untungnya Melati dan Semuanya Indah gak memberitahu hal yang sebenarnya. Bayangkan aja, gimana reaksi mereka saat tau kami hampir aja digigit anjing hanya untuk cari tempat makan es krim. Mereka pasti udah menganggap kami gak waras. Macam gak punya tempat lain aja untuk makan es krim.
Bebas dari situ kami mengucapkan terima kasih kepada Kakak Baik Hati Berkacamata yang telah member peringatan, kepada Abang yang tampangnya memang gak mirip Ashraf Sinclair maupun Miller, dan kepada penonton penyemarak suasana, tak lupa pula kepada Allah swt yang telah menyelamatkan kami dari keadaan berbahaya.

Bayangkan,teman. Bila kami digigit anjing, orang tua kami pati bertanya kenapa kami bisa digigit anjing. Mau tak mau kami pasti akan bercerita tentang es krim. Sungguh bukan scenario yang indah saat bercerita ingin makan es krim dan digigit anjing sebanyak 5 ekor. Lantas, alasan yang akan saya dan Mawar berikan ke kantor esok harinya karena kami tak masuk juga sungguh tak enak di dengar. Minta ijin karena digigit anjing. Ohh… saya sungguh gak bisa membayangkan gimana reaksi orang-orang kantor saya menertawakan saya begitu tau saya digigit anjing. Pasti mereka bilang, badan saya ini memang santapan lezat untuk anjing. Ohemji.

Setelah dipikir baik-baik, lorong tersebut buntu. Lorong itu menuju tanah kosong yang sepertinya digunakan untuk memelihara suatu binatang. Tanah itu berisikan pohon-pohon besar yang menjadi tempat sembunyi anjing. Dan anjing-anjing ini mungkin bertugas untuk menjaga sesuatu yang kami tak tahu apa itu.

Bebas dari situ kami kembali mencari jalan yang benar menuju Kampus Politeknik. Sampai. Akhirnya jalannya benar. Kami makan es krim yang sudah tak dingin lagi sambil kembali membahas anjing-anjing itu. lalu kami mengumpat. Dasar anjing!

Pesan moralnya adalah: Teman, mengumpatlah pada tempatnya. Mengumpatlah yang benar. Gunakan kata anjing sesuai kaidah yang berlaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s