Wawancara: Ajang Unjuk Kepedean

“wawancara lagi?”

Itu pertanyaan yang bernada retoris yang kembali adik saya ucapkan ketika melihat wajahnya kembali penuh masker. Ya besok saya ada jadwal wawancara tahap akhir pada sebuah bank BUMN.

Setelah beberapa kali mengikuti wawancara saya menikmatinya, bahkan bisa dibilang wawancara adalah test yang paling saya sukai dari serangkaian test yang harus dilewati. Bila melamar di bank test itu banyak tahapnya, beda seperti perusahaan tempat saya bekerja sekarang. test-nya hanya test tulis dan wawancara dalam bahasa Inggris saja. di Bursa Efek Indonesia yang baru saya ikuti pada hari Rabu lalu juga testnya bertahap-tahap, dan memang wawancara kemarin sangat saya nikmati.

Di wawancara saya menikmati saat deg-degannya sebelum memasuki ruangan. Menerka-nerka pertanyaan apa yang bakal ditanya. Dan berusaha ngomong cap cis cus ntah hapa-hapa demi menjawab pertanyaan dari si interviewer. Inilah menariknya. Berusaha ngomong dengan sok kepedean dan gak lupa ngasih senyum. Pertanda saya gak gugup. Padahal saya gugup gilak, walaupun gak sampe gilak beneran.

Akhirnya saya sadar. Saya ini tipe yang kepedean. Ya PD sekali dan banyak ngomong. Makanya saya suka test wawancara. Bagi saya ini ajang memuaskan nafsu PD saya. Huahahahaha… *ketawa ala nenek sihir lagi make eyeliner.

Di Bursa Efek Indonesia, test wawancara kemarin itu ada sesi presentasinya. Ya. Kami diminta untuk mempresentasikan sesuatu apa saja itu dan direkam pula. Tujuannya agar dapat ditonton oleh sang Direktur di Jakarta nantinya. Teman-teman saya yang juga tengah menanti giliran wawancara tampak gugup dan sibuk belajar apapun itu tentang saham,apalagi begitu tau ada sesi presentasinya, mereka lebih gabuk lagi. Saya? Maaf bukannya sok, tapi beneran saat itu saya gak khawatir, walaupun ini BEI saya gak gabuk sama sekali. Saya hanya sok-sok gugup dan takut saja agar sama seperti para calon interviewee lainnya. Dan masalah presentasi bukan suatu masalah bagi saya.

Begitu giliran saya masuk. Seperti biasanya, senyum dan sebisa mungkin terlihat tenang. Walaupun memang saat udah berhadapan sama interviewer rasa tenang itu udah gak ada lagi. Lalu, saat giliran presentasi haje gilee… saya emang kepedean banget. Ngomong cap cis cus dihadapan kamera. Sampe-sampe si pewawancara bilang saya kayak lagi main iklan, membuat orang terpengaruh. Akhirnya saya sadar, saya banci tampil. Banci kamera. Narsis. Ya itulah saya. (Berharap banget lulus disini dan bisa hengkang secepatnya dari perusahaan sekarang)

Ya.. wawancara sebenarnya hal yang gampang. Apalagi bagi yang telah mengikutinya berulang-ulang. Makin sering makin mahir. Makin PD makin lulus. Besok, saya wawancara tahap akhir pada sebuah bank yang menentukan apakah saya akhirnya harus ke Lhoksemawe, Bireun, Takengon atau di tetap di Banda Aceh pertanda gak lulus😛

Bila bisa memilih. Saya gak ingin bekerja di Bank. Bila boleh berharap saya pengen sekali dapat bergabung di BEI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s