Married: The First Page not The Last

Menikah di kehidupan nyata kan gak seperti pernikahan dalam dongeng. Simak saja cerita Cinderella, Beauty and the Beast, Sleeping Beauty. Kesemuanya memiliki cerita yang sama diujungnya. Mereka bakal menikah di akhir cerita. Ya.. begitulah cerita dongeng. Happily ever after.
Bagi dongeng menikah itu akhir cerita. Tapi bagi kehidupan nyata, menikah itu adalah awal cerita.

Menikah.
Sekarang pun saya berani diajak nikah. Asal si pengantin pria udah nyiapin mahar dan orang tua saya punya kemampuan nyiapin segala sesuatunya.
Menikah. Bukan perihal seberapa banyak mahar yang mampu si lelaki kasih untuk saya. Gak. Saya gak maruk sama hal gituan. Bukan mahar yang menentukan saya mau menikah atau gak.
Menikah. Bukan perkara orang tua saya mampu meresepsikannya di gedung dengan catering beragam macam makanan. Bahkan bila hanya dipestakan di rumah dengan dihadiri keluarga dan teman dekat saja saya gak akan komplen.

Menikah. Bukan perkara dengan pria kaya nan tampan jumawa. Yang dengan mobilnya mampu bikin sirik tetangga yang dengan pekerjaannya mampu banggain orang tua saya yang dengan tampangnya mampu bikin saya naik pamor di depan teman-teman saya. Bukan semua itu hal yang memutuskan saya menikah.

Bukan saya tak mau menikah. Okeh.. kadang saya memang ingin begitu. Tapi kadang-kadang aja loh… . tapi menikah itu kan sunah rasul, yang apabila gak menikah bukan termasuk umatnya. Nah… saya takut donk, di neraka kelak saya gak akan di tolong ama Rasulullah kalau saya gak dianggap sebagai umatnya. Emang tinggal di neraka terus-terusan enak apa…

Menikah itu hanya perkara waktu bagi saya. Untuk saat ini saya belum siap. Banyak hal yang mesti saya lakukan. Bebenah diri dulu lah ceritanya.

Kalau menikah itu macem pernikahan layaknya di dongeng-dongeng mah saya juga mau. Gini misalnya.
Saya jatuh cinta sama pria, dilamar, orang tuanya gak setuju karena golongan darah saya B dan itu gak cocok sama dia yang golongan darahnya A, akhirnya orang tuanya setuju tapi lalu ayah saya sewot karena dia bukan PNS, saya dan mamak saya sih emang gak minat ama PNS, lalu calon pengantin pria membuktikan kalau bukan PNS pun mampu membahagiakan putrinya asal punya NPWP (nah loh?) akhirnya, para orang tua setuju karena cinta kami begitu tulus, lalu mereka memutuskan untuk segera menikahkan kami.

Saya pakai kebaya cantik. Dengan kombinasi warna hitam putih, warna kesukaan saya. Awalnya calon suami saya pengen pake baju bernuansa putih saja, tapi karena saya suka hitam jadilah kami pakai kombinasi hitam putih. Nikah di Mesjid Kuta Alam. Kenapa disini? Mamak saya suka ama mesjid ini.

Ijab qabul selesai. Lalu kami ganti baju untuk pakai pakaian adat aceh. Kali ini warnanya merah. Warna kesukaan saya. Kami duduk di pelaminan. Poto-poto. Saya begaya-begaya. Salam dan cipika cipiki ama tamu. Terus jual tampang di pelaminan ampe jam 3 siang. Dan disitu terlihat lah kami ini pasangan yang serasi dengan kebahagian luar biasa meskipun saya udah migren karena mesti pake hiasan kepala yang lumayan berat dan bikin kepala saya teleng, sedangkan suami saya udah kepanasan dan gerah mesti senyum sana-sini. Tapi semua berhasil kami tutupi dengan senyuman menawan aduhai. Nah.. kalo di dongeng-dongeng cerita cukup sampai disini. Cukup sampai acara pernikahan. Nah, kalo cerita sampai disini, sumpe… sekarang pun saya mau diajak nikah.

Karena bila ceritanya sampai disitu. Endingnya cuman butuh satu halaman. Ya dalam dongeng kejadian itu hanya butuh satu halaman sebagai bagian penutup. Dalam kehidupan nyata, cerita itu memang satu halaman juga, sayangnya terletak di bagian pembuka. Nah.. kisah indah dan manis di acara pernikahan itu hanya lembar pertama suatu cerita. Untuk bab-bab selanjutnya dari kelanjutan kisah ini begitu banyak. Nah.. melanjutkan bab demi bab inilah yang saya belum siap.

Maka… dengan ini saya katakan, ini hanya perkara waktu. Kelak saya menikah juga kok. Kalau saya sudah siap menulis bab demi bab kisah saya. Yang mana saat dalam proses menulis hingga cerita itu tamat saya harus sudah siap lahir batin. Yang mana saat itu, otak, hati dan mulut saya sudah bekerjasama dengan baik mencapai satu tujuan.

Dan… inilah jawaban panjang saya kalau saya mau sewot ketika ada yang berujar, “nikah muda itu enak” atau “kenapa mesti takut nikah muda?” atau “ngapain lama-lama nunggu nikah?”
Tulisan diatas, mungkin versi panjang dan warasnya saya kalau dikasih pertanyaan dan pernyataan itu.

Tau apa? Kayaknya untuk 3 tahun ke depan tulisan-tulisan saya gak jauh-jauh dari tema ginian. Ini namanya tuntutan usia. Aaah.. semua dari kita mengalaminya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s