Senin yang bukan untuk dibenci

Saya gak pernah membenci Senin. Okeh. Setidak-tidaknya saya gak pernah bersabda “I Hate Monday” secara brutal dan frontal. (aih… jangan hiraukan tata bahasa saya). Bukan salah bunda mengandung. Bukan salah Senin juga terletak sesudah Minggu. Makanya saya sebisa mungkin gak menyalahkan Senin.

Akan tetapi saya pernah merasa menyesal pada hari Senin hingga pikiran kekanakan saya muncul. Aah.. andai Senin itu tak datang niscaya hari ini (red: suatu jumat di bulan April) saya baik-baik saja. Ya.. saya benci pada Senin itu. Sebenernya sih bukan salah Seninnya, salah saya memang. Saya hanya mencari-cari kambing hitam (karena kambing putih sold out) untuk masalah saya. Saya terus menerus berkata, andai hari itu bukan Senin. Andai Senin gak ada. Maka, saat ini hidup saya tak berlubang.

Tapi, hari ini Senin. Tiba-tiba suatu nama muncul. Aah… bukan masalah. Masalah di Senin lalu-pun tak lagi masalah sekarang. Senin itu tak mengubah Selasa saya besok. Senin itu tetap membuat saya bernafas hingga Senin ini.

Ini hanya Senin. Senin yang bukan untuk dibenci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s