Hati, Otak dan Bibir

Saat ini saya merasa saya gak punya hati. Belum punya hati untuk bisa saya berikan kemudian saya percayakan pada orang lain yang pantas saya jatuhi hati dengan resiko patah hati.
Atau saat ini hati saya tengah saya semubunyikan. Saya bungkus dan simpan baik-baik. Dengan suhu dibawah 0 derajat celcius. Hati saya jadi beku. Dengan begitu hati saya berwarna pucat bukan merah merona. Dengan begitu hati saya gak bakal patah/rusak kalau jatuh. Ya saya menjaga hati saya terlalu protektif.

Saya gunakan logika saya. Saya agungkan logika saya. Segala sesuatunya yang berbau harumnya merah jambu cinta harus diolah lewat logika saya. Lalu saya nilai untung ruginya. Akhirnya logika saya selalu mengatakan hal berbau merah jambu bukan hal yang harus menjadi bagian hidup saya saat ini. Logika saya begitu angkuh. Ingin berkuasa penuh atas diri ini.

Bibir saya seenaknya. Seenaknya berbicara. Terkadang mendahului logika terkadang menyakiti hati. Ini yang paling parah. Bibir seolah merasa menjadi jenderal karena terletak paling luar dan terlihat. Padahal ulah bibir yang paling fatal. Akibat ulahnya saya akhirnya harus merasakan apa itu kata bernama penyesalan.

Maka telah saya putuskan. Kelak saat hati, otak dan bibir saya sudah akur dan dapat bekerjasama dengan baik demi satu tujuan, maka saat itulah saya siap. Saat mereka bertiga telah seia dan sekata. Saat hati merasa, otak berpikir dan bibir berucap hal yang senada. Saya katakan siap untuk membaui, mengecap dan merasakan hal “merah jambu”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s