Kamu Pemain Layang-Layang, Saya Bukan Pengejar Layang-Layang

Pernah baca buku The Kite Runner? Atau menonton film-nya?
Film itu diangkat dari buku yang judulnya sama. Kisah dua orang anak Afganistan yang suka main layangan. Si anak orang kaya bernama Amir yang memainkan layangan. Dia jago banget main layangannya. Si anak orang miskin, Hasan bertugas sebagai Pengejar Layang-Layang yang putus. Mengejar layang-layang sendiri juga sama menariknya seperti memainkannya di langit menurut cerita itu. Siapa yang berhasil menangkap layang yang putus dia-lah pemenangnya dan dia pula lah yang berhak memiliki layang-layang yang putus tersebut. Nah, anak orang miskin ini selalu berhasil mengejar layang-layang yang putus itu bersaing dengan anak-anak lainnya yang punya misi yang sama. Sama seperti si Anak orang kaya yang selalu menang main laying-layang begitu juga si anak miskin yang selalu berhasil mengejar layang-layang. Keduanya sahabatan. Dan akhir cerita ternyata mereka bukan cumin sahabat melainkan saudara kandung.

Ceritanya seru. Miris. Bikin sedih. Kamu mesti baca bukunya. Baru nonton filmnya. Mantap.
Saya gak pinter bikin sinopsi cerita buku. Tapi buku ini layak kamu baca. Dan ini salah satu favorit saya. Kalau mau baca sinopsisnya kamu bisa masuk ke sini http://buku-buku-buku.blogspot.com/2007/11/kite-runner-bahasa-indonesia.html

Sebenarnya saya gak berniat bikin synopsis cerita disini. Saya hanya mau bercerita tentang kehidupan pribadi saya. Kenapa saya sangkut pautkan dengan The Kite Runner? Ini cuman agar terlihat keren. *pasang kaca mata hitam*

Kamu tau kan, kalau dalam suatu hubungan asmara itu ada istilah namanya Tarik Ulur? Nah tarik ulur ini kan identik dengan bermain layang-layang. Untuk pria yang suka tarik ulur saya pikirnya mereka ini sedang main layangan. Dan saya mengibaratkan cintanya sebagai layangan. *analogi macam apa ini!*

Nah, saya ini sedang diikutsertakan dalam permainan “layang-layang” ini. Ada seorang pria yang tarik ulur sama saya. Kadang dia narik-narik kadang dia ulur-ulur. Kegiatan ini akan dia lakukan sampai layang-layangnya putus. Dan.. mungkin nih ya, saat layang-layangnya putus dia berharap saya menjadi sang pengejar laying-layang. Mencari laying-layang yang putus itu untuk kemudian menjadi milik saya. Sayangnya, saya gak suka kegiatan mengejar layang-layang ini. I am not a kite runner.

Lantas apa? Kamu boleh saja bermain layang-layang, kapan saja dan dimana saja (tapi jangan di tengah jalan yak), tapi saya janganlah kamu ikutsertakan. Saya gak mau menjadi pengejar layang-layangmu. Ngeker-ngeker kemana kiranya layangmu jatuh. Begitu jatuh maka saya mengejarnya untuk saya dapatkan. Aah.. gak. Cara itu merepotkan saya. Lagian saya gak selihai Hassan yang tau dimana layang-layang itu akan jatuh.

Advertisements

4 thoughts on “Kamu Pemain Layang-Layang, Saya Bukan Pengejar Layang-Layang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s