Kita Disini Tertawa, Meraka Disana Berdarah-darah

Ketika itu saya masih berumur 11 tahun. Anak SD. Perkara main-main dan buat PR, hanya itu yang ada di otak saya. Tapi bagi dia, saat itu usianya 15 tahun. Siswi SMP. Selain sekolah dan belajar perkaranya adalah bagaimana bisa memegang senjata dengan benar.

Ketika itu saya 13 tahun. Siswi baru di bangku SMP. Mempelajari rumus-rumus Fisika yang merupakan hal baru bagi siswi SMP. Di suatu tempat lain, seorang gadis merayakan ulang tahunnya yang ke 17 di penjara.

Selama bertahun-tahun hidup saya terarah dan terkendali. Selama bertahun-tahun hidupnya gak aman dan sibuk melarikan diri dan sembunyi ke gunung-gunung.

Saya sedang berbicara saat konflik di Aceh, teman. Saat kita yang hidup di kota makan dan tidur dengan nyaman, tapi di bagian lain nanggroe kita ini ada seorang gadis yang hidup dengan ketakutan dan bagaimana sibuknya bertahan hidup.

Saya gak akan berbicara soal politik. Saya buta soal itu. Yang ingin saya bahas adalah bagaimana hidup ini terasa sulit bagi sebagian orang. Dan bagi kita, membayangkan hidup seperti itu saja rasanya gak pernah.

Memegang senjata, lari ke gunung, di penjara, di siksa, di setrum, jadi tukang parkir itu sebagian cerita hidupnya yang saya tau. Dia perempuan. Saya perempuan. Perbedaan usia hanya terpaut 4 tahun. Tapi bedanya jalan hidup terentang begitu jauh. Saya hanya melongo setiap mendengar ceritanya. Yang mana cerita itu sekarang dia ceritakan dengan tertawa. Tapi semua orang tau, saat itu dia menangis dan ketakutan. Perempuan itu masih hidup. Masih sehat. Ceria. Dan tak ada satu-pun yang dapat menyangka perjalanan hidupnya begitu berat. Perempuan itu kuat, dia mampu mempertahankan hidupnya dan kehormatannya. Akhirnya saya hanya termenung sendiri dan mengingat. Masa konflik? Ya saya hanya tau Aceh pernah diwabahi konflik. Tapi konflik itu sama sekali gak merubah hidup saya. Gak merubah rencana-rencana hidup saya. Konflik ya konflik saya ya saya. Karena apa? Karena saya beruntung tinggal di daerah yang aman pun masih satu propinsi.

Aah… ini belum lagi kisah Palestina. Ini masih kisah konflik di bumi Aceh kita tercinta. Tapi apa? Yang hidup masih di satu bumi Aceh saja kita masih bisa masa bodo apalagi di Palestina sana.

Saya pernah membaca buku tentang Palestina. Ada kalimat yang kalau gak salah ditulis begini “Bagi orang-orang di luar sana, konflik Palestina hanya berupa berita yang dapat mereka tonton di TV, mereka turut berduka, tapi begitu berita usai mereka kembali menjalani kehidupan mereka seperti biasanya dan berita tadi terlupa.”

Lalu, “Perang Palestina hanya masalah orang-orang Palestina saja. Dunia luar sana, berkata perduli tapi mereka tak melakukan apa-apa”

One thought on “Kita Disini Tertawa, Meraka Disana Berdarah-darah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s