Manis tapi Iblis

“Jadi apa, kamu suka sama saya?”

Aaah.. sudah lama saya gak menembak langsung orang seperti ini. Ya mu gimana, nyaris 3 tahun saya sembunyi dari area pandang laki-laki yang mungkin akan menjadikan saya target. Dulu itu saya sering nembak dengan kalimat diatas kepada makhluk berjenis kelamin lelaki yang mendekati saya. Saya GR banget? Aaah.. GR- GR pun toh akhirnya tebakan saya benar. Boleh aja awalnya dia berkilah toh ujung-ujungnya dia minta saya jadi pacarnya. Jadi menurut hemat saya saat itu, sebelum semua bertele-tele biar saya pastikan maksud tujuan dia hadir dalam hidup saya. Bukanlah lebih bagus dikasih peringatan penolakan duluan sebelum dia mengerahkan seluruh keberanian hanya untuk sekedar menyatakan suka pada perempuan seperti saya?

Maka, setelah sekian lama kalimat ini saya simpan dan tak ingin saya gunakan lagi eh malah kepake lagi. Karena kemarin itu saya sempat taubat. Taubat untuk gak bersikap terlalu judes dan sok kecakepan berasa sebagai makhluk tuhan paling manis. Taubat untuk lebih menghargai usaha cowok dengan takdirnya yang harus hidup dengan penolakan-penolakan. Ya.. saya berniat ingin menjadi orang yang lebih ramah lingkungan. Ramah dalam menerima pernyataan suka orang lain. Ramah untuk gak langsung membuat lelaki mati kutu dengan serangan tiba-tiba saya. Ramah untuk gak bersikap sinis ama lelaki tebar pesona. Lantas apa?

Hari ini saya menilai kembali diri saya. Terlalu ramah maka itu masalah buat saya. Lihat saja. Bukankah kalau saya menyandang gelar ramah nan baik hati bukankah saya akan terlihat (seolah-olah) begitu sempurna? *digundulin warga Sukadamai*
Hehehehe…

Saya tau, kecantikan gak mutlak membuat orang terpesona. Sikap yang santun, ramah dan baik hati-lah yang membuat orang terpesona. Saya pernah tanpa sadar terlalu baik hati sampai-sampai ada seorang teman semasa kuliah naksir sama saya. Dia bilang, dia jatuh hati sama saya karena saya begitu ramah sama dia. Haiyyyaaah.. berasa kayak malaikat diusir dari langit.

Naaah… setelah saya cermati. Ternyata menurut orang-orang yang matanya lumayan rabun mungkin, saya ini termasuk manis. Berarti wajah saya gak jelek-jelek amat lah. Kebukti dengan banyaknya yang suka sama saya. (ini tulisan kok jadi narsis gini ya?). Nah, bolehlah badan kurus kerempeng rata dimana-mana tapi kalau muka manis ini ditambah dengan perilaku ramah plus senyum menawan apa gak bikin orang jatuh hati? *warga Sukadamai mulai ngambil minyak tanah*

Saat orang kantor kasih komentar, “Intan kalau senyum manis” Nah… apa yang saya lakukan? Saya berhenti senyum sama dia. Saya introspeksi diri. Besoknya saya gak senyum, jutek, gak negur-negur luan, gak tebar pesona, gak ramah. Untuk apa? Untuk membuktikan kalau mereka itu salah kalau sampai naksir sama saya.

Lalu, saat kalimat “Jadi apa, kamu suka sama saya?” keluar dari mulut judes saya ini. Saya hanya ingin mengembalikan kamu ke jalan yang lurus. Bahwa apa? Saya gak sebagus itu untuk kamu sukai. Bahwa apa? Bukan karena kamu gak pantas untuk saya hanya saja saya terlalu rumit untuk kamu pahami. Trust me!
I am not always right but I am never wrong!
*catet tuh!*

Bukan. Bukan untuk membuat kamu tergagap dan mati gaya gitu dihadapan saya. Hanya saja, mulai sekarang berhentilah mendekati saya. Perhatian itu membuat saya jengah. Dan marilah kita bangun hubungan yang professional.

Kuakui ku memang manis. Tapi ku iblis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s