The Best Actor in My Drama

Hidup itu panggung sandiwara. Masing-masing dari kita tengah memerankan suatu peran dalam drama kehidupan pribadi kita. Drama hidup kita pasti menarik. Gak kalah menarik dengan dongeng Cinderella, cerita Kuch-Kuch Hota Hai, Film Coffe Prince (korea punya barang), dan bahkan lebih menarik ketimbang Cinta Fitri. Tapi teutep.. masih kalah menarik ketimbang Harry Potter. Huehehehehe…

Saat kita memainkan drama hidup kita, kita tentunya berperan sebagai tokoh utama. Drama ini gak berjalan sendiri. Scenario Tuhan membuat hadirnya orang-orang lain dalam hidup kita. Dia bisa jadi pemeran tetap seperti keluarga dan sahabat terdekat kita, dia bisa jadi pemeran pembantu penyemarak suasana kita, atau bahkan dia bisa jadi hanya kebagian peran figuran. Apapun perannya, saat orang lain telah hadir dan masuk dalam cerita drama kehidupan kita sosoknya itu memiliki arti, pun mungkin tak banyak.

Hidup kita gak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya saat ada orang baru hadir dalam hidup kita. Karena hadirnya dia memberi kita pelajaran. Entah dia bersikap positif atau negative untuk cerita kita ada hal yang dapat kita pelajari dari dia. Ini yang disebut hikmah.

Saya orang yang amat tahu soal adanya hikmah. Didikan Ibu saya selalu membuat saya mencari-cari hikmah atas apa-apa yang menimpa hidup saya. Jadi, soal hikmah, tanpa perlu dinasihati saya tahu dia pasti ada. Mungkin kadang saya menyadari hikmah itu sedikit terlambat.

Sosok terakhir yang hadir dalam cerita saya adalah sosok yang tadinya hanya saya anggap figuran. Sosok terakhir ini hadir dalam hidup saya bukan kebetulan. Kebetulan itu tidak ada. Dia hadir karena kami memang telah berjodoh (red: berjodoh itu berarti ditakdirkan untuk berjumpa). Sesuatu yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk kami. Akhirnya dalam cerita saya dia kebagian peran, begitu juga sebaliknya. Kami menjalankan peran kami masing-masing.

Bukan untuk disayangkan saat drama yang ada saya dan dia-nya rupanya tak layak tayang atau ratingnya tak bagus. Drama kami harus dihentikan bahkan sebelum launching. Bukan.. kami gak membuat drama asusila kok hingga dilarang tayang. Hanya saja drama kami kurang tepat dengan peran yang kami mainkan. Harusnya peran yang kami ambil bukan seperti ini.

Menyesalkah saya? Tak ada yang harus disesali saat kita malah mendapatkan suatu pelajaran. Pelajaran dari apa yang telah saya lakukan. Pelajaran dari sosok orang yang saya pikir gak membuat saya bakal berpikir. Ternyata sosok ini membuat saya berpikir dan tersadar lebih banyak. Yaah.. saya memang tak selalu benar. Tapi saya yakin saya tak salah.

Untuk mendapatkan sesuatu kita harus membayar dengan sesuatu. Untuk mendapatkan sesuatu kita harus melakukan pengorbanan. Dan saya, untuk mengetahui sesuatu saya harus kehilangan sesuatu. Untuk dapat benar-benar saya pahami arti dari yang selama ini saya sangka gak ada saya harus mengacaukan segalanya.

Sosok itu hadir dengan memberi saya kesempatan. Memberi saya kejelasan akan apa yang selama ini begitu kabur dan menjadi tanda tanya bagi saya. Membuat saya percaya akan apa yang selama ini saya sangka hanya berupa takhayul.

Peran yang dia mainkan untuk menjadi bagian dari drama saya begitu berat. Tapi dia berhasil membuka mata saya dan membuat saya akhirnya percaya kalau mungkin ketulusan itu memang ada. Rasa tulus orang dalam menyanyangi orang lain itu memang nyata. Ah bukan. Saya percaya cinta dan rasa sayang itu ada. Tapi yang saya gak percaya adalah bila rasa cinta dan sayang itu hadir untuk saya. Itu yang selama ini saya ragukan. Akhirnya dia membuat saya percaya, kalau memang ada orang yang dengan tulus menyanyangi dan mungkin mencintai saya. Membuat saya akhirnya berhenti bertanya sendiri, “kenapa dia bisa menyukai saya?” saat ada orang yang menyatakan cintanya pada saya. Mungkin saya ini, memang pantas bila ada yang menyukai, menyayangi dan bahkan mencintai saya. Ya.. hal yang selama ini saya ragukan. Amat sangat gak masuk logika menurut saya.

Tapi akhirnya mari kita abadikan kalimat yang pernah saya baca entah dimana ini, “saat ada sesuatu yang tidak kita mengerti bukan berarti hal itu salah, hanya saja pemahaman logika kita yang belum sampai ke sana”

Dan saya yang gak mengerti apa itu cinta pernah beranggapan cinta itu salah bila disematkan di hidup saya. Padahal saya saja yang tak memahaminya.

Lantas, untuk kamu sosok yang hadir dalam hidup saya walau untuk waktu yang singkat, saya ucapkan banyak terima kasih karena kamu telah membuat saya belajar. Kamu telah membuat saya paham. Pun pemahaman saya hanya sebatas menerima cinta bukan memberi cinta. Mungkin untuk memberi cinta, orang keras kepala seperti saya ini harus dihadirkan sosok yang lain lagi. Dan saya mungkin harus mengorbankan lebih banyak hal lagi.

Akhirnya, kita malah gak mempermasalahkan pengorbanan itu kalau akhirnya kita bisa mendapatkan pelajaran yang berarti. Menyesal sih, but life must go on ^^.

Kini, saya tidak sama lagi seperti dulu. Saya mungkin akhirnya lebih bisa menghargai orang lain. Dan saya mungkin akan berhenti memasang tameng dan juga topeng.

Kabar baiknya apa selain hikmah pelajaran itu? Well, saya kini merasa lebih bersemangat dan saya seakan diizinkan Tuhan untuk sekali lagi membuka kotak mimpi saya. Mimpi-mimpi yang meronta-ronta minta diperjuangkan. Yaa.. saya bereskan mimpi-mimpi saya ini dulu. Kalau beres dan saya telah merasa puas akan apa-apa yang telah berhasil saya capai, saya berdoa agar kita kelak berjodoh (bertemu) kembali. Moment itu semoga disaat kita telah sama-sama begitu mengenal dunia ini. Moment itu semoga disaat kita telah sama-sama berhasil mencapai apa yang kita dapat hingga yang tertinggal hanyalah mengikuti hati dan takdir. Dan bila kita tak bertemu, itu berarti takdir berkata lain untuk kita.

Untuk ibu saya, izinkan saya durhaka, Mi. hanya untuk 5 tahun saja. Izinkan saya durhaka. Nanti saat mimpi-mimpi ini telah tercapai atau akhirnya kalah untuk dicapai saat itu saya akan kembali. Kembali sesuai apa-apa yang kau harapkan.

Untuk kamu yang saya sebut sebagai aktor terbaik (saat ini) bagi drama saya. Saya ingin memberikan penghargaan tertinggi untukmu. Semoga kelak saya bisa membalas atas apa yang telah kamu lakukan. Dan bila saya berkesempatan maka akan saya balas dengan begitu sempurna. Tetapi andaikata saya tak berkesempatan, maka saya berharap akan ada sosok lain yang mampu berbuat lebih dari yang mungkin saya lakukan. (Ya saya tau, kamu pasti mikir orang lain lebih bisa ngelakuinnya ketimbang saya tapi orang lain gak alamin seperti yang saya alami)

Life must go on. And thank to make me free so that I can draw my dreams again🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s