Kamu Kayak Kopi

Kopi. Banyak yang menggandrunginya. Aromanya begitu disuka dan rasanya begitu nikmat. Saya juga menyukai kopi. Baik rasa atau aromanya yang begitu khas. Tapi saya berhenti meminumnya sejak 3 tahun lalu. Kopi tak baik untuk kesehatan saya.

Beberapa kali saya tergoda untuk menyesap kopi lagi. Memanjakan lidah saya dengan rasanya, memabukkan penciuman saya dengan aromanya. Tapi berulang kali saya menahan diri. Mengingatkan diri bahwa kopi bukan untuk saya. Jadi saya hanya dapat melihatnya saja untuk mata saya. Kopi bukan untuk lidah atau penciuman saya.

Kopi itu minuman yang elegan. Menurut saya. Kopi cocok diminum kapan saja. Terlebih bila cuaca sedang dingin begini, kopi cocok menemani suasana hujan.

Saya anggap kamu seperti kopi. Begitu menggoda. Nikmat dan harum. Tapi kamu tak baik untuk saya. Kamu kopi bagi saya.

Saya sering tergoda oleh kehadiranmu. Tapi saya berulang kali mengingat diri saya, kamu itu mengandung caffeine yang tak baik untuk saya.

Di saat hujan seperti ini saya ingat kamu. Ingat kamu yang begitu elegan di mata saya. Saat Sabtu dan cuaca seperti ini membuat ingatan saya terbang ke kamu. Tapi kamu kopi.

Lantas saya mengambil inisiatif lain. Masih banyak minuman lain yang cocok menjadi teman di kala Sabtu dan hujan turun ini. Saya mencari selain kopi.

Advertisements

3 thoughts on “Kamu Kayak Kopi

  1. Saya dan kopi adalah sejoli. Jika tak ada kopi saya merasa ada yang hilang dalam diri saya, dan itu tidak bisa digantikan dengan teh, susu, atau air mineral. Saya tetap membutuhkan kopi, dan kopi pun demikian, ia membutuhkan saya. Haha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s