Kamu Teman Saya?

Siapa kalian? Teman SD saya? Waktu telah lama berganti sejak kalian mengenal saya dengan menggunakan seragam merah putih, jajan bakwan goreng hingga mulut berminyak, rambut kepang banyak dan main lompat karet. Pikiran saya bukan lagi tentang ingin berteman dengan semuanya agar saya tak sendirian saat istirahat pelajaran tiba.

Siapa kalian? Teman SMP saya? Sudah lama pola pikir saya meninggalkan apa yang ada di bangku yang berisi remaja-remaja ABG labil yang tak tahu hendak mau apa. Saya bukan lagi tentang ingin merasa dikenal oleh banyak orang atau merasa senang saat ada yang menyukai saya. Bahkan sok-sokan berpacaran.

Siapa kalian? Teman SMA saya? Saya bukan lagi gadis yang sibuk mencari jati diri dengan mengeksiskan diri di berbagai kegiatan. Bukan lagi seorang gadis yang sibuk jelatatan agar di jelalati cowok-cowok kurus yang sok-sokan menghisap rokok agar terlihat keren. Saya bukan lagi gadis yang sibuk ikut sana-sini agar update dengan gossip terbaru. Agar terlihat nyata sebagai makhluk yang pernah menyesap bangku SMA. Aah.. SMA bukan apa-apa. Hidup bukan tentang masa SMA.

Siapa kalian? Teman kuliah saya? Tak tahukah kalau pola pikir bisa berubah cepat. Mana bisa kita kalah dengan teknologi dan bahkan iklim yang tak serupa lagi dengan tahun lalu? Kita berubah, teman. Lebih bagus bila kearah yang lebih baik. Dan saya berubah. Kalau kamu mengenal saya saat saya masih bertingkah kekanakan dan egois. Kali ini kamu harus melihat saya yang sedang mengurangi sikap jelek itu. Kalau kamu pernah mengenal saya yang sibuk merasa menang bila berdebat. Kali ini kamu harus melihat saya berusaha diam dan ngalah. Kalau kamu pernah melihat saya melakukan hal bodoh. Kini saya tengah mengubah agar hal bodoh tak lagi terulang. Kalau kamu pernah melihat saya seakan menantang dunia. Kini saya tengah berdamai dengan keadaan.

Jadi siapa kamu? Teman yang mana kamu? Dari mana kamu tau saya begini saya begitu?
Lantas apa dasar kamu menilai saya begini-begitu?
Untuk apa kamu nasihati saya begini-begitu kalau kamu hanya melihat luarnya saja. Bukan inti yang tengah saya hadapi?
Selama apa kamu bersama saya menjalani hidup? Adakah setiap hari kita bertemu? Pasti tidak.
Karena teman yang setiap hari bersama saya tak melihat saya begini begitu. Tak menghakimi saya begini begitu. Saya hargai kamu berusaha membijaksanakan saya. Tapi alangkah baiknya bila kamu nikmati saja saat bersama saya dengan hmm.. misalnya membicarakan soal panas teriknya kota kita tercinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s