Ini Realis, Bukan Pesimis

Cuman berselang bulan. Hm… saya rasa itu bulan Januari. Ya.. perjanjian itu kami buat awal tahun ini. Saya dan teman saya yang sama gilanya, Leni. Okeh.. saya boleh lebih gila dari dia. Tapi dia lebih paleh dari saya.😀

Perjanjian itu konyol. Yaaah.. tentang siapa yang lebih dulu menikahlah. Kami taruhan. Aku dengan penuh percaya diri bagai baru minum baygon menuduh kalau temanku itu yang bakal lebih dulu menikah. Ini bukan hasil ucapanku saja, tapi lebih kepada hasil observasi dan analisis yang telah saya lakukan makanya hipotesis itu muncul. Saat itu, aah.. andai kalian bisa lihat betapa wajah saya bahkan sudah memancarkan silau kemenangan dari taruhan tersebut.

Hmm.. kenapa kami membuat pernikahan sebagai tema taruhan tak usah dibahas. Ini aja saya udah takut dia bakal keberatan saya angkat topik ini jadi bahan tulisan saya.

Itu bulan Januari ya, teman kejadiannya.
Sekarang bulan Maret. Kisah cepat berubah teman. Kalau kamu asyik nonton sinetron Putri yang Tertukar mungkin memang kisah mereka berjalan lambat dan seperti jalan di tempat. Tapi kisah saya, cepat berubahnya teman. Ini bagai cerpen. Suatu kisah yang harus rampung hanya dengan 6000 karakter bukan 600 episode.

Okeh. Langsung aja. Kini saya tak berani lagi berkata apa-apa mengenai mimpi saya. Gimana tidak, saya saja sudah tak percaya lagi akan kata-kata saya, gimana bisa saya umbar-umbar tuk didengar orang omong kosong itu. Kini saya harus mengenyampingkan ego dan menyimpan mimpi. Karena ini walaupun hidup saya tetap saja ada orang lain yang ikut andil dalam hidup saya. Pun saya berteriak saya ingin bahagia dengan cara saya, tetap saya harus antuk-antuk kepala agar juga memikirkan kebahagian orang lain atas saya. Harapan orang akan saya. Doa orang lain untuk saya. Dan senyum orang lain untuk saya. Ok, singkat kata yang saya sebut orang lain ini tak lain tak bukan adalah keluarga saya, khususnya Ibu dan Ayah saya.

Kalau kamu mau dikatakan dewasa kamu harus bisa berpikir bijak. Jangan sampai usiamu saja yang tinggi tapi pikiranmu tak mengimbangi. Maka dibalik kelakuan saya yang masih kekanakan saya sadar umur, dan itu membuat saya harus mulai menggunakan otak secara benar. Bukan hanya berisi kesenangan pribadi. Sekali lagi, saya hidup bukan hanya untuk saya. Saya wajib membahagiakan orang tua yang telah membesarkan saya selama ini, walaupun akhirnya saya tak lagi berani mengumbar cita-cita sebagai penyemangat hidup.

Bukan pesimis. Tapi realistis. Hidup cepat berubah. Hidup tak stagnan. Dia berjalan seiring dengan waktu.

Sekarang. Saya hanya berusaha belajar akan apa sebenarnya hidup itu. Saya belum matang memang. Tapi saya berusaha untuk memahami segala sesuatunya sekarang.

Ya ini (lagi) tentang seorang perempuan yang selalu diincar-incar topik pernikahan. Ini tentang perempuan yang mulai dilirik-lirik Ayah, Oom, Tante atau siapapun untuk dijadikan istri dari ponakan, cucu atau anak mereka. Ini soal perjodohan saat saya sudah selesai kuliah, dan saat si pria adalah seorang PNS. Ohh.. apakah di muka saya ada tulisan “carikan aku jodoh seorang PNS”?

Tapi herannya, kali ini saya tak lagi berani menolak jodoh dengan terang-terangan. Karena suatu kisah, saya jadi tersentak, dan saya berpikir kalau jodoh itu bisa datang kapan saja dimana saja dan kita gak bisa nolak. Yaa.. gak bisa nolak. Kalimat sakti ini menertawakan pemikiran saya yang masih menyala-nyala di bulan Januari lalu kalau saya bisa menghindari jodoh. Saya dengan ego dan prinsip saya merasa bisa lari dari takdir-Nya. Yaa.. saya seakan lupa, kalau jodoh bukan perkara dua insan yang ingin menikah. Tapi ini adalah kuasa dan takdir-Nya. Ooh.. tiba-tiba saya merasa seperti tak percaya akan Tuhan. Saya merasa terlalu angkuh kemarin-kemarin itu. Maafkan aku, Tuhan. Waraskanlah aku.

Kini, saya berdoa agar saya selalu berada dalam kewarasan dan agar saya selalu diberikan yang terbaik. Apapun itu, saya akan jalani. Bagaimana jalan hidup saya, akan saya lalui. Pun dengan atau tanpa satu atau beberapa mimpi saya ikut terlibat.

Saya berusaha agar tak seangkuh dulu. Saya berusaha agar saya seperti layaknya perempuan pada umumnya. Saya berusaha agar saya bisa menerima “virus merah jambu” terinfeksi pada diri dan jiwa saya tanpa saya berusaha melakukan imun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s